Cinta.
Apa itu cinta?
Ya. Cinta itu apa.
Apa itu cinta?
Ya. Cinta itu apa.
Cinta.
Masalah klasik yang sudah diperdebatkan sejak zaman dulu. Para pujangga sudah
membuat banyak mahakarya tentang cinta. Dan aku, sudah memikirkan tentang cinta
sejak aku kelas 6 SD. Aku telah mencari data, membuat teori dan melakukannya
dalam eksperimen. Maka kali ini akan kubuat sesuatu tentang cinta.
Aku
adalah anak laki-laki yang terlahir pada tahun 90-an. Menyatakan bahwa aku masuk
kategori anak-anak zaman modern. Dan seperti yang kita tau, anak-anak zaman
sekarang sudah mengenal cinta. Aku juga termasuk. Akankah kau percaya jika
kubilang kalau ciuman pertamaku terjadi pada saat aku kelas 1 SD? Jangan
percaya. Tapi itu sudah sangat mungkin terjadi saat ini.
Di wikipedia dikatakan: “Cinta adalah sebuah emosi dari kasih
sayang yang kuat dan ketertarikan pribadi. Dalam
konteks filosofi cinta merupakan sifat baik yang mewarisi semua kebaikan,
perasaan belas kasih dan kasih sayang. Pendapat lainnya, cinta adalah sebuah
aksi/kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa
pengorbanan diri, empati, perhatian, kasih sayang, membantu, menuruti
perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apa pun yang diinginkan objek
tersebut.” Anda akan sering melihat postingan di internet tentang pasangan yang
overprotektif, atau memaksa seseorang untuk melakukan sesuatu, atas nama cinta. Pikirkan saja sendiri.
Biar kukatakan
hasil penelitianku. Aku mempunyai seorang kenalan. Panggil saja Rutbir. Dia adalah salah satu orang yang kujadikan objek penelitianku. Dia adalah orang biasa, tapi
pemikirannya lumayan bagus. Sekarang akan kurubah gaya bahasaku agar kita bisa
menikmati ceritanya.
Suatu hari, seorang perempuan memanggil Rutbir menanyakan apakah Rutbir
sudah mengerjakan PR MTK. Panggil saja dia Anti.
“Udah dong~ Gua mah baru dikasih langsung gua kerjain.” Itu kata Rutbir.
Dan memang begitulah Rutbir. Ia adalah tokoh yang bisa diteladani. Kalau diberi
tugas, dia akan melakukannya dengan segera. Dalam hal belajar, dia rajin. Dia
adalah murid yang akan diharapkan oleh semua guru. Kebetulan, aku adalah teman
sebangkunya.
Pada awalnya, kami
tak terlalu sering membicarakan cinta. Oiya, aku lupa bilang. Sekarang aku kelas
1 SMA. Oke. Aku baru mulai membicarakan cinta dengannya dua bulan setelah kami
sekelas. Ini terjadi ketika aku baru saja jadian dengan teman sekelasku, Anti. Sejak
aku jadian, aku dan Rutbir jadi semakin ceria. Kalau aku wajar kalau ceria. Tapi
kenapa Rutbir juga ceria? itu pikirku.
Suatu hari, aku
menanyakan Rutbir siapa perempuan yang dia sukai. Kami mempunyai percakapan
yang agak menarik dan tak terlupakan untukku. Tak akan menarik jika kutulis
dengan paragraf. Berikut ini dialognya.
Aku : “Eh, Bir, ada yang lu
suka gak di kelas ini?”
Rutbir : “Hmm... Ada.”
Aku : “Eh? Sumpah? Siapa?” Jelas aku penasaran siapa yang disukai orang ini.
Rutbir : “Tapi jangan sinis yaa~”
Aku : “Sip woles bro!” Aku mulai curiga.
Rutbir : “Anti bro. Cewek lu. Gua suka sama dia. Tapi woles aja sob sama gua, mah. Gua gak ganggu.”
Rutbir : “Hmm... Ada.”
Aku : “Eh? Sumpah? Siapa?” Jelas aku penasaran siapa yang disukai orang ini.
Rutbir : “Tapi jangan sinis yaa~”
Aku : “Sip woles bro!” Aku mulai curiga.
Rutbir : “Anti bro. Cewek lu. Gua suka sama dia. Tapi woles aja sob sama gua, mah. Gua gak ganggu.”
Aku percaya tak
percaya dengan kata-kata Rutbir. Aku jadi merasa tak enak padanya. Tapi mengapa
ia harus memberitahuku ini? Sejak itu aku sering kuatir kalau Anti dekat-dekat
dengannya. Entah kenapa, aku takut Rutbir merebut Anti dariku, padahal aku
sudah tau kalau mereka teman dekat.
Anti adalah pacar
pertamaku selama 12 tahun berada di bumi. Meski sejak SD aku sudah sering
menyukai orang, aku tak pernah pacaran. Sejak SD aku ingin sekali mempunyai
pacar, tapi aku berpikir kalau lebih baik pacaran saat SMP.
Sejak MOPD SMP, aku
sudah mengenal Anti. Dia adalah perempuan baik dan baik-baik. Maka tak heran
kalau Rutbir menyukainya. Dan jangan remehkan aku. Orang bilang aku itu baik
dan pintar. Maka tanpa berurusan dengan dukun, aku bisa menjadi pacar Anti dan
bisa lancar mengobrol dengan Rutbir. Sejak hari pertama bertemu, aku dan Anti
sudah mulai akrab. Aku pun berpikir kalau “kami cocok.” Sedangkan saat itu
Rutbir sedang di gugus lain dan membuat yelyel unik mereka.
Hubunganku dengan Anti berjalan romantis. Kata-kata indah, puisi, dan lagu-lagu tercipta untuk
masing-masing kami. Suatu hari aku membuat puisi untuknya:
CANDU
Sakit.
Siapa kamu?
Aku sakit tanpamu.
Siapa kamu?
Aku sakit tanpamu.
Tampaknya Anti
menyukai puisi itu. Dan itulah awal dari hubungan pacaran kami. Berdasarkan
penelitianku, jarang ada orang yang bisa berpacaran sejak SMA sampai menikah. Maka
akan kutantang itu dengan hubunganku dengan Anti. Saat itu aku yakin, kami
cocok, takkan terpisahkan. Cintaku, cinta kami tulus.
Dan suatu hari aku
melanjutkan dialog-ku dengan Rutbir:
Aku : “Bir, lu ga cemburu
atau kesel sama gua?”
Rutbir : “Cemburu sih pasti, tapi kenapa harus kesel?”
Aku : “Kan gua pacaran sama orang yang lu suka. Mungkin lu ga suka bagian itu.”
Rutbir : “Gua mah gak masalah, bro. Yang penting dianya seneng.”
Aku : “Lu ga mau pacaran sama dia?”
Rutbir : “Itu ga penting bro. Pokoknya lu bikin dia seneng aja. Gua udah seneng. Ga bakal protes.”
Rutbir : “Cemburu sih pasti, tapi kenapa harus kesel?”
Aku : “Kan gua pacaran sama orang yang lu suka. Mungkin lu ga suka bagian itu.”
Rutbir : “Gua mah gak masalah, bro. Yang penting dianya seneng.”
Aku : “Lu ga mau pacaran sama dia?”
Rutbir : “Itu ga penting bro. Pokoknya lu bikin dia seneng aja. Gua udah seneng. Ga bakal protes.”
Kata-kata seperti
itu adalah hal yang biasa kulihat pada sinetron atau novel romance. Pada dunia
nyata, dalam penelitianku tidak ada yang seperti itu. Tunggu. Mungkin ada, tapi
aku tak merasakan ketulusan seperti yang kurasakan dari Rutbir. Aku tak
merasakan perubahan sama sekali. Dia tak merasa tak nyaman atau tak aman.
Seolah dia merasa kalau hubunganku dengan Anti itu tidak penting. Seolah dia
tidak peduli. Seolah tak ada yang mampu menghentikan cintanya, atau rasa
sukanya.
Ayo kita bicarakan cinta lebih
jauh lagi.
Cinta adalah suatu perasaan yang positif
dan diberikan pada manusia atau benda lainnya. Bisa dialami semua makhluk.
Penggunaan perkataan cinta juga dipengaruhi perkembangan semasa. Perkataan
sentiasa berubah arti menurut tanggapan, pemahaman dan penggunaan di dalam
keadaan, kedudukan dan generasi masyarakat yang berbeda. Sifat cinta dalam
pengertian abad ke-21 mungkin berbeda daripada abad-abad yang lalu. Ungkapan
cinta mungkin digunakan untuk meluapkan perasaan seperti berikut:
·
Perasaan terhadap keluarga
·
Perasaan terhadap teman-teman, atau philia
·
Perasaan yang romantis atau juga disebut asmara
·
Perasaan yang hanya merupakan kemauan, keinginan hawa nafsu,
atau cinta eros
·
Perasaan sesama atau juga disebut kasih sayang atau agape
·
Perasaan tentang atau terhadap dirinya sendiri, yang disebut narsisisme
·
Perasaan terhadap negaranya atau patriotisme
·
Perasaan terhadap bangsa atau nasionalisme
Source: Wikipedia
Aku setuju kalau cinta
tak hanya satu. Yang kurasakan kepada Rutbir dan kepada Anti sangat berbeda. Tentu
saja aku tidak berniat untuk menikahi Rutbir, tapi aku menyayanginya sebagai
sahabat. Perasaan yang disebut sebagai philia. Sedangkan kepada Anti,
perasaanku lebih mengarah ke asmara dan eros. Dan ini wajar sebagai manusia.
Seharusnya yang Rutbir rasakan juga begitu. Tapi mengapa ia tak berusaha untuk
merebut Anti? Aku ragu.
Kutanyakan kepadanya.
Aku : “Eh,
bir. Lu gak mau ngerebut Anti dari gua. Lu masih suka sama dia kan?” jelas aku tak ingin ia merebutnya.
Rutbir : “Kaga usah ngapa-ngapain. Kalo emang jodoh ga bakal kemana.”
Aku : “Tapi kalo lu ga ngapa-ngapain nanti ga jadi lho. Kan kita usaha dulu baru berdoa.”
Rutbir : “Gua lagi usaha kok. Awas nanti ada celah.”
Rutbir : “Kaga usah ngapa-ngapain. Kalo emang jodoh ga bakal kemana.”
Aku : “Tapi kalo lu ga ngapa-ngapain nanti ga jadi lho. Kan kita usaha dulu baru berdoa.”
Rutbir : “Gua lagi usaha kok. Awas nanti ada celah.”
Kami
bercanda. Aku bilang kepadanya aku tidak akan kalah. Telah terjadi sebuah
persaingan cinta yang melibatkan tiga besar kelas kami. Rutbir, Aku, dan Anti.
Aku
dan Anti tidak masuk ke ekskul yang sama. Tapi aku satu ekskul dengan Rutbir.
Yaitu Karya Ilmiah Remaja. Sejak dulu aku sudah menyukai Ilmu Pengetahuan dan
Teknologi. Mencoba mencari jawaban dari misteri seperti asal mula manusia,
cinta, emosi, dan sebagainya. Aneh dan kurang kerjaan memang, tapi suatu saat
akan kutunjukkan hasilnya.
Aku
dan Anti seperti biasa menuliskan kata-kata indah. Bertukar pikiran, puisi, dan
pesan. Tugas sekolah tak lupa kami kerjakan. Dan suatu hari, Anti menanyakan
padaku apa itu pacaran.
Anti : “Menurut
kamu pacaran itu apa?” Anti menggunakan basis aku-kamu ke semua orang.
Aku : “Sebenernya sih artinya tergantung orangnya masing masing, tapi kalo menurut aku pacaran adalah fasilitator untuk seseorang yang mau mengekspresikan rasa cintanya melalui tindakan.”
Anti : “Lalu, apa itu cinta?” Bahasanya mulai puitis.
Aku : “Cinta adalah sesuatu yang dapat dirasakan. Terasa dekat tapi tak tersentuh. Seperti energi gaib. Seperti udara yang mengandung Oksigen dan Karbon dioksida.”
Anti : “Kamu puitis, tapi ilmiah banget. Kalo menurut aku sih, cinta itu sebuah pertanyaan yang belum terjawab sempurna.”
Aku : “Sebenernya sih artinya tergantung orangnya masing masing, tapi kalo menurut aku pacaran adalah fasilitator untuk seseorang yang mau mengekspresikan rasa cintanya melalui tindakan.”
Anti : “Lalu, apa itu cinta?” Bahasanya mulai puitis.
Aku : “Cinta adalah sesuatu yang dapat dirasakan. Terasa dekat tapi tak tersentuh. Seperti energi gaib. Seperti udara yang mengandung Oksigen dan Karbon dioksida.”
Anti : “Kamu puitis, tapi ilmiah banget. Kalo menurut aku sih, cinta itu sebuah pertanyaan yang belum terjawab sempurna.”
Aku
menyukai jawabannya. Seluruh percakapanku dengan Anti membuatku semakin yakin
kalau kami cocok, tak terpisahkan. Cinta itu tak terdefinisi! Rasakan saja agar kau
bahagia, seperti Rutbir yang sedang presentasi disana.
Rutbir
mempresentasikan tugas sekolah. Dengan .ppt Power Point yang dibuat secara
profesional dan penjelasan yang lugas, membuat orang yang melihatnya kagum. Dia
tak pernah melakukan sesuatu dengan setengah-setengah. Ia masukkan video
penguraian geometri rumah ke dalam presentasinya. Pelajaran matematika berubah
menjadi game online atau Anti. Menarik. Anti pun tersenyum melihatnya.
Setelah
selesai presentasi, Rutbir kembali ke sebelahku. Aku langsung menanyakan
pertanyaan yang ditanyakan oleh Anti. “Apa itu pacaran?” “Apa itu cinta?”
Rutbir : “Pacaran
itu adalah sebuah kata yang membuat orang yang menggunakan kata itu merasa
kalau mereka mempunyai hubungan spesial. Gua sih gak mau pacaran. Kalo cinta,
suatu penyakit yang belum dapat dijelaskan, tapi sudah ditemukan obatnya.”
Jawaban Rutbir soal pacaran sedikit
menyinggungku. Tapi ia ada benarnya. Tapi efek dari acara pencegahan HIV/AIDS
kemarin lusa sangat terasa. Ia menggunakan bahasa yang mirip. Inilah Rutbir.
Setiap pelajaran yang ia dapatkan selalu ia pakai sebanyak-banyaknya. Kepada
siapa saja, apa saja, dimana saja. Membuat ilmunya bermanfaat. Sial. Rutbir
puitis juga ternyata.
Lagi, aku tanyakan Rutbir apakah dia tidak
mau merebut Anti dariku.
Aku : “Bir,
lu yakin ga mau ngerebut Anti dari gua?”
Rutbir : “Lu ngomong begitu, tapi sebenernya lu gak mau dia direbut kan? Gua ga masalah kok.”
Aku : “Hehe. Kok lu ga masalah si? Marah dong. Kesel dong.” Aku penasaran. Menggodanya sedikit.
Rutbir : “Nih bro. Kan gua udah bilang, gua ga niat pacaran. Kalo emang jodoh ga bakal kemana. Kalo gua ngelakuin hal baik, jodoh gua bakal baik. Emang sih gua pengen Anti jadi jodoh gua, tapi kalo bukan ditakdirin juga ga masalah. Ya kan?”
Aku : “Ya emang si. Harusnya begitu. Oke bro. Gua ga bakal ngegodain lu lagi.”
Rutbir : “Lu ngomong begitu, tapi sebenernya lu gak mau dia direbut kan? Gua ga masalah kok.”
Aku : “Hehe. Kok lu ga masalah si? Marah dong. Kesel dong.” Aku penasaran. Menggodanya sedikit.
Rutbir : “Nih bro. Kan gua udah bilang, gua ga niat pacaran. Kalo emang jodoh ga bakal kemana. Kalo gua ngelakuin hal baik, jodoh gua bakal baik. Emang sih gua pengen Anti jadi jodoh gua, tapi kalo bukan ditakdirin juga ga masalah. Ya kan?”
Aku : “Ya emang si. Harusnya begitu. Oke bro. Gua ga bakal ngegodain lu lagi.”
Jadi
begitu rupanya. Penelitianku berkembang. Ternyata orang seperti ini tak hanya
ada di sinetron, drama, atau karya fiksi. Pada penelitianku saat SMP, informasi
yang kudapat hanyalah bahwa cowok yang menyukai cewek akan diledeki. Tapi ini
masih terjadi di SMA. Cewek adalah makhluk yang akan membuat status galau ketika
tidak dihubungi oleh pacarnya. Dari yang kulihat saat itu, cinta adalah suatu hal
yang prosesnya terdiri dari 3 bagian. Normal, positif, dan negatif. Keadaan
normal adalah keadaan dimana perasaan cinta masih tidak terasa. Positif adalah
saat perasaan itu terasa, dan negatif adalah saat perasaan itu berubah menjadi
kebencian dan kegalauan.
Fase
ini dimulai dari keadaan normal. Apabila digambar grafik dalam diagram
kartesius dimana sumbu x merupakan waktu dan sumbu y merupakan “tingkat cinta”,
maka akan terbuat satu gelombang sempurna. Dimulai dari keadaan normal (0),
lalu ke positif (+), lalu ke negatif (-), dan akhirnya, kembali ke normal (0).
Hasil penelitian SMP, pemraktekkan cinta itu lebih banyak yang tidak perlu. Orang yang
pacaran 1 bulan akan galau selama 2 minggu dan akan mencari yang lain untuk
mengulangnya kembali. Dalam beberapa kasus, orang yang patah hati meski belum
pacaran bisa galau selama beberapa bulan, bahkan beberapa tahun. Ini adalah
orang-orang yang rentan.
Orang-orang
berdebat soal pacaran dan cinta. Padahal menurutku sederhana saja, pilihlah
pilihan terbaik yang mau kau pilih. Apabila memungkinkan, buatlah sebuah pilihan
yang tidak ada di daftar, yang aman dan tidak menyebabkan masalah. Intinya,
semua pilihan ada di tangan si pelaku.
Rutbir.
Orang yang membuatku merasa kalau perasaan normalnya adalah perasaan positifku.
Seolah perasaan positifnya melebihiku. Tapi aku tak mau kalah. Tapi meskipun
kalah, aku tak akan sedih. Akan kuberitahu cara membuat dirimu tak bisa sedih.
Apabila
digambarkan dengan grafik cartesius, 0 adalah keadaan normal. Keadaan bahagia
adalah positif, dan sedih adalah keadaan negatif. Maka untuk mencapai
kebahagiaan selamanya, dan agar aku selalu bersyukur, aku geser parameternya.
Kalau kita ubah keadaan sedih menjadi keadaan normal, maka kita tidak bisa
sedih kecuali sangat sedih, dan akan selalu bahagia. Tapi ini berbahaya, jangan
ditiru kalau belum siap.
Kembali
lagi soal cinta. Hubunganku dan anti seolah tidak ada masalah. Semua berjalan
secara harmonis. Rutbir benar-benar tak mengganggu. Setelah melakukan
penelitian selama ini, setelah berbagai eksperimen yang kulakukan, setelah
mengenal Anti dan Rutbir, hasil akhir dari penelitianku adalah:
"Cinta itu berbeda tergantung orang yang mengalaminya.
Seseorang mempunyai cara masing-masing untuk mencintai. Semakin banyak pengalaman
seseorang dalam mengalami cinta, maka semakin sulit untuk membedakannya
intensitasnya. Semakin cerdas dan semakin dewasa pemikiran seseorang, maka akan
semakin dramatis percintaannya.
Cinta itu adalah sebuah pertanyaan yang belum terjawab sempurna.
Definisi cinta berbeda setiap orangnya. Pendapat orang tentang cinta bisa
berbeda tergantung dari pengalaman hidup masing-masing. Cinta memiliki banyak
sekali ciri-ciri atau gejala yang dapat terlihat, tapi cara paling mudah untuk
mengetahui apakah seseorang mencintai seseorang adalah dengan merasakan.
Cinta positif cenderung tidak stabil. Dan cinta yang sudah
masuk ke wilayah negatif akan selalu mencapai titik normal kembali meski
terkadang memakai waktu yang sangat panjang. Cinta yang negatif memiliki
kemungkinan untuk menjadi positif kembali. Apabila cinta yang positif terus
berlangsung, maka akan kembali berada di titik normal, berubah menjadi kata
sayang.
Tuhan dan kehidupan akhirat adalah pengecualian dari kalimat
“tak ada yang abadi”. Sekian."
Aku tak akan memprotes caramu mencintai sesuatu. tapi ingatlah kalau ada hal-hal yang tidak boleh dilakukan karena dilarang oleh agama dan negara. Dan soal penelitianku yang lain? Aku tak yakin akan membuatnya.
Root beer itu enak bro.

0 comments:
Posting Komentar