Jumat, 28 Februari 2014

Awan


Aku bisa mendengarnya. Mereka jatuh tepat di atas payung merahku. Mereka meluncur di atasnya. Dan ketika mereka jatuh ke bumi, aku juga bisa mendengarnya.
Aku bisa melihatnya. Serbuan air hujan itu, aku melihat mereka dari bawah payung merahku. Mereka, jatuh dengan lembut. Terlalu lembut hingga aku tidak tahu sejak kapan mereka disana. Dan sampai kapan mereka akan disana. Mereka terus menemaniku. Mereka bahkan tidak meninggalkanku sedikitpun. Tidak sepertimu.
Duniaku dingin. Kau tahu itu. Aku tak pernah bisa keluar dari sana. Kau juga mengetahuinya. Tapi, kenapa kau memaksaku keluar? Itu sulit. Saat kau datang bersama kehangatan duniamu.
Aku ingat saat itu, aku melihat senyummu. Saat aku berjalan sendirian di taman. Saat seorang perempuan berada di atas kusi roda itu, berbagi senyum pada orang-orang disana. perempuan itu menggerai rambut panjangnya. Dan aku ingat, jepit rambut merah yang menjaga poninya untuk tidak mengganggu pandangannya.
Bukan. Bukan pandangannya yang terganggu. Tapi wajahnya. Wajah pucat yang tidak ingin dia sembunyikan. Wajah yang membuatku terduduk untuk bisa memandanginya lebih lama. Dan saat aku terus memandangnya, saat itu pula perempuan tadi mengarahkan kursi rodanya ke arahku. “Permisi,” katanya, memecahkan lamunanku. “Kenapa kamu duduk sendiri, sementara orang-orang memiliki pasangan? Dan jika aku benar, kamu tidak sedang menunggu seseorang.”
“A-aku... kenapa kamu bertanya seperti itu? Aku juga tidak melihatmu bersama seseorang.” Jawabku.
“Tidak. Memang tidak. Tapi aku bersama mereka. Kau lihat? Semua orang yang ada di sini berbagi cinta denganku. Tapi tidak dengannmu. Aku lihat, kau sedang tidak ingin membagi cintamu.”
“Bahkan aku tidak yakin jika aku memiliki cinta.” Dia hanya tertawa mendengar jawaban itu keluar dari mulutku. Kemudian dia berkata, “Kau bergurau. Semua orang punya cinta. Kau hanya perlu merasakannya.” Aku hanya mengangkat bahuku. “Apa kau ingin belajar merasakannya bersamaku?” jawabnya.
“Kau? Dan bagaimana bisa rasa cinta dipelajari?”
Kemudian seorang pria paruh baya berseragam coklat menghampiri perempuan yang kini berada dihadapanku itu. Berbicara pelan padanya, seperti bahwa itu saat baginya untuk check-up. “Kau akan mengetahuinya nanti.” Katanya sebelum dia benar-benar berbalik, meninggalkanku.
Setelah itu aku pulang. Aku berbaring di atas ranjangku, menatap langit-langit kamarku yang putih. Malam itu, aku tidak benar-benar bisa tidur. Kata-katanya, senyumnya, mungkinkah  kami akan bertemu lagi esok hari? Sebagian dari diriku tidak mempercayai, hampir semua yang yang dia katakan. Tapi sebagian dari diriku yang lain, mempercayainya.
Ini aneh, kata-katanya seperti sihir. Kami baru bertemu. Tapi kenapa ucapannya terus kuingat? Ini tidak mungkin salah satu cinta yang dia bagi bukan? Ingat? Kami baru bertemu. Dan aku masih tidak yakin dengan cinta pada pandangan pertama.
☂☂☂☂☂
Esoknya, di jam yang sama, melalui jalan yang sama, kakiku menuju taman itu. Aku tidak mengerti. Ini menunjukkan lebih banyak bagian dari diriku yang mempercayai ucapannya.  Dan, aku terkejut saat aku melihatnya di sana. Di samping kursi, tempat kami pertama bertemu. Kakiku terhenti  setelah cukup dekat dengannya, dan dia menoleh ke arahku. Rambut hitam itu, yang terlihat sangat lembut dan rapuh, mengekori arah kepalanya. Tergerai menutupi punggungnya. Dan jepit rambut merah itu, masih ia pakai. Dan, dress yang dia kenakan, membuatnya terlihat lebih hidup dari hari yang lalu.
“Akhirnya kau datang,” katanya kemudian. Dan senyum itu, akankah selalu ada di sana? “Kau harusnya tahu, menunggu itu membosankan.”
“Oh, maafkan aku. Kelasku berakhir lebih lambat dari biasanya.” Dan kenapa kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutku?
“Ayo, ikut aku.” Dia memenggang tanganku. Hangat. “Kita akan kemana?” tanyaku sambil mendorong kursi rodanya.
“Ke sana. Tolong dorong aku ke arah lapangan itu.”
“Baiklah. Tapi apa yang akan kita lakukan di sana?”
“Kau akan mengetahuinya begitu kita sampai di sana.”
“Dan, jika kau menyadarinya, kita belum saling mengenal.”
“Oh, iya. Bagaimana aku bisa melupakannya? Aku Claudia. Dan kau?”
“Aku Evan. Baiklah, Claudia, bisakah aku memanggilmu Awan?”
“Kenapa seperti itu?”
“Nama Claudia itu terlalu panjang. Claud, terdengar seperti ‘cloud’ dan artinya awan.”
Dia, lagi-lagi tertawa kecil. Dan, ujung-ujung bibirku terasa tertarik saat aku tahu dia tertawa karena ucapanku. “Baiklah. Itu juga bagus. Awan memberimu keteduhan dibawah terik matahari, dan bisa membawa hujan agar siklus air tidak terhenti. Awan memberi pengaruh yang banyak pada bumi, dan aku menyukainya. Terima kasih.”
“Sama-sama. Dan, kita sampai.”
Di lapangan itu, ada beberapa anak laki-laki yang sedang bermain sepak bola. Mereka terlihat sangat bahagia dan bersemangat walau mereka harus jatuh bangun menggiring bola. “Di sana, ada anak laki-laki berbaju hijau. Dia sepupuku, Didit. Bisakah kau bermain bola bersamanya?”
“Aku tidak tahu tujuanmu sebenarnya. Tapi, ya, akan kulakukan.” Lalu aku memberikan tasku pada Awan, dan menghampiri Didit. Dia tidak terlihat terkejut, tidak seperti anak-anak lain. Lalu mereka mengizinkanku untuk bergabung.
Mereka bermain dengan polos, selayaknya anak laki-laki berumur 7 tahun. Ada yang menarik bajuku sedangkan temannya mengambil bola dariku. Bagaimana aku bisa marah pada mereka? Mereka jelas menganggap ini hanya main-main. Dan senyum mereka, membuatku ikut tersenyum. Dadaku berdegup kencang saat Didit menerima operan bolaku dan berhasil memasukkannya ke gawang. Dan sekali lagi, aku tersenyum. Tidak. Aku tertawa, bersama mereka. Kami selesai, dan kelelahan. Kami langsung saja berbaring diatas rumput hijau itu. kemudian Awan datang, membawa handuk kecil dan beberapa botol minum.
“Terima kasih.” Kataku. Kali ini Awan hanya tersenyum. “Apa kau sudah mempersiapkan ini semua?”
“Ya, aku rasa tidak semua. Aku hanya memberi tahu Didit bahwa kau akan bermain bersamanya, tapi tidak dengan yang lain. Lihat? kegembiraan mereka yang alami membuatmu tersenyum dan itu artinya, hatimu yang beku mulai mencair.”
“Ya, aku cukup gembira. Terima kasih, adik-adik!”
“Sama-sama, kakak!” jawab mereka serempak.
“Kakak, ayo kita pulang.” Kata Didit pada Awan.
“Ayo. Baiklah, Evan. Aku harus pulang. Dan terima kasih untuk hari ini.” kata Awan. Lagi-lagi dia akan memunggungiku. Dan aku merasa tidak rela dia terus melakukannya. “Apa kita kan bertemu lagi besok?” kataku tiba-tiba.
“Tentu. Di tempat yang sama dan jam yang sama, oke?”
“Oke!” Didit melambaikan tangannya sebelum mendorong kursi roda Awan. Dan aku membalasnya. Aku juga melakukan itu pada anak-anak tadi, dan mereka membalasnya. Aku pulang dengan senyum yang terus mengembang di wajahku.
Begitu aku sampai rumah, senyum itu hampir menghilang. Rumah besar yang sepi itu, merenggut senyumku. Mama dan Papaku belum pulang. Mereka terlalu sibuk di kantor hingga sangat jarang berada di rumah. Tidak heran aku tidak merasakan cinta di rumah ini. Hanya ada pembantu setiap aku pulang dan bangun di pagi hari. Dan cinta yang mereka berikan tidaklah sama.
☂☂☂☂☂
Esoknya, aku rasa aku datang lebih cepat dari Awan. Kali ini, aku tidak tahu kenapa tadi aku membeli coklat. Sudah lewat dari jam yang kami janjikan. Aku mulai gelisah. Mataku menyusuri setiap orang yang ada di sana, aku mencari Awan. Aku khawatir, apa kau sakit? Apa terjadi sesuatu denganmu? Tanyaku dalam hati.
Tidak lama kemudian, aku melihat Awan. Awan, yang mengenakan celana panjang dan baju berlapis, terlihat sangat hangat. Tapi, matanya sendu. Dan di belakangnya, seorang wanita paruh baya mendorong kursi roda Awan. Dia cantik, sama seperti Awan.
“Hai, Evan! Apa aku membuatmu menunggu lama?” katanya begitu sampai di hadapanku. “Tidak juga. Aku pikir terjadi sesuatu denganmu. Apa kau baik-baik saja?”
Lalu Awan memandang wanita itu. Dia membalas tatapan Awan, tapi matanya terlihat sedih dan putus asa. Awan mengalihkan pandangannya dari wanita itu dan menatapku, “Aku baik-baik saja. Kenalkan, ini mamaku. Ma, dia Evan. Teman baruku yang aku ceritakan.” Katanya kemudian.
“Oh, selamat sore, tante.”
“Sore. Hari ini saya ingin menemani Claudia, tapi dia bilang, dia akan bertemu denganmu jadi aku putuskan untuk bergabung dengan kalian. Boleh kan?”
“Oh, tentu tante.” Jawabku.
“Ma, aku lapar. Ayo, kita beli makanan.”
“Ayo. Mari, nak Evan.”
Aku mengikuti mereka, dan aku berjalan di samping mamanya Awan. Aku berkali-kali melihat ke arahnya. Aku selalu ingin memiliki mama seperti mama Awan. Ibu yang peduli dengan keadaanmu, dekat dengan teman-temanmu dan selalu ingin menemanimu.
Kemudian mama Awan memesan makanan. Tapi anehnya, ia hanya memesan satu porsi bubur ayam dengan dua sendok. “Aku akan menyuapi kalian. Tapi, bila kau ingin menambah satu porsi lagi, kau harus bilang padaku. Mengerti Evan?” nada bicaranya seperti menasihati anak-anak yang sulit untuk disuruh makan. Aku hanya mengangguk, dan dia mulai menyuapiku dan Awan dengan sendok yang berbeda. Menyenangkan. Aku hampir tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu seperti ini. Berkali-kali aku makan dari sendok itu, dan saat itu pula aku tersenyum melihat ekspresi mama Awan saat menyuapiku. Apa ini juga rencana Awan untuk mencairkan hatiku? Baiklah, ini mulai berhasil kurasa.
“Aku kenyang.” Kataku saat benar-benar merasa tidak sanggup menelan apapun lagi. Awan menganggukkan kepala, setuju dengan ucapanku. Bagaimana tidak? Kami telah menghabiskan 2 porsi bubur ayam.
“Kalian puas? Tanganku pegal harus terus menyuapi kalian. Terbuat dari apa perut kalian hingga menghabiskan 2 porsi bubur ayam?” goda mama Awan.
“Terima kasih, Mama.” Kata Awan sambil memeluk mamanya manja.
“Terima kasih, tante.” Kataku.
“Sama-sama. Kamu tidak ingin memeluk tante juga?” Dia menggodaku. Tapi kemudian aku memeluknya. Hangat. Aku hampir menangis karena teringat mamaku sendiri yang tidak pernah kurasakan pelukan hangatnya.
“Nah, sekarang waktunya untuk pulang. Evan, pulangnya hati-hati ya?” kata mama Awan.
“Iya, tante. Hati-hati di jalan.” Jawabku.
“Dah, Evan.” Kata Awan. Dia tersenyum padaku sebelum kembali memunggungiku.
“Awan, tunggu!” cegahku ketika teringat coklat, yang memang untuk Awan, belum aku berikan. “Ini, tadi aku beli coklat. Dan... untuk kamu.”
Awan menerimanya dengan senang hati, dan sambil tersenyum. Senyum yang manis. Yang kali ini, membuat jantungku berdegup kencang. Dan membuatku ikut tersenyum. “Terima kasih.” Kata Awan lembut. Bibirku seperti terkunci dan beku, sehingga aku hanya bisa tersenyum saat itu.
Besoknya, aku ke kursi taman itu. Pada jam yang sama. Tapi aku tidak melihatnya. “Ah, mungkin dia akan terlambat seperti kemarin.” Aku meyakinkan diriku sendiri bahwa ia akan baik-baik saja. Dan aku tidak perlu mengkhawatirkannya.
Aku terus menunggunya. Aku duduk disana. Sesekali memberikan senyum pada orang-orang yang lewat di depanku, seperti yang dilakukan Awan. Sudah hampir 2 Jam dan dia tak kunjung datang.
Kemudian pandanganku tertuju pada aspal di depanku. Seperti ada yang jatuh, tapi hanya sekilas, dan langsung lenyap. Dan ada lagi beberapa di dekatku. Itu air hujan. Aku ragu untuk meninggalkan tempatku. Mungkinkah kau akan datang? Tapi ini hujan. Aku harus pergi. Maafkan aku, karena aku tidak bisa menunggumu lebih lama. Aku harap kau memang sedang tidak berniat mengunjungiku hari ini.  pikirku dalam hati. Jadi, aku pergi dari sana.
Hari-hari berlalu. Ini sudah hari ketiga sejak Awan tak menampakkan dirinya di taman. Tapi, aku terus menunggunya. Setiap hari, setelah pulang sekolah, aku ke sana. Dan saat itu, betapa terkejutnya aku melihat Didit duduk di kursi itu, sendirian. Dan menangis. Kemudian aku duduk di sampingnya. “Kenapa kau menangis?” kataku.
“Kak Clau-d-dia..” jawabnya terbata-bata, menahan tangis.
“Ada apa dengannya?” saat itu perasaanku sudah tidak baik tentangnya.
☂☂☂☂☂
Aku berlari dalam koridor rumah sakit. Sedangkan Didit masih menangis tak bersuara dalam gendonganku. Bagaimana bisa aku tidak menyadarinya? Bagaimana bisa aku tidak tahu kalau kau mengidap Leukimia, Awan? Kenapa kau tidak mengataknnya padaku? Kenapa kau membiarkanku menunggu di taman, sedangkan kau terbaring koma di rumah sakit? Dan kenapa baru sekarang kau memintaku mengunjungimu? Pertanyaan demi pertanyaan itu terus berputar dalam kepalaku selagi aku berlari mencemaskannya.
Dan akhirnya aku sampai. Di depan ruang rawatnya. Aku ragu membukanya. Tanganku gemetar. Dan aku merasa kakiku lemas. Tapi kemudian Didit menggenggam tanganku. Meyakinkanku untuk kuat di sana, di hadapannya. Aku menggeser pintu itu, dan aku masuk.
Aku melihat Papa dan Mamanya menangis di samping ranjang Awan. Mereka mengisyaratkanku untuk mendekat dan duduk disamping ranjangnya. Dan aku lihat Awan tertidur. Wajahnya sangat pucat. Dan wajah itu, masih bisa membuat hatiku berdegup kencang. Aku memandangnya iba.
Kemudian ia membuaka matanya perlahan. Ia menatapku. Mataku semakin panas menahan air mata. “Hai,” katanya. Suara itu, sangat terdengar lemah. “Tolong jangan memandangku seperti itu. Mereka sudah cukup melakukannya padaku, dan aku harap kau tidak melakukannya.” Pinta Awan.
“Baiklah. Tunggu sebentar.” Aku memalingkan wajahku dan menghapus air mata yang sudah di ujung mataku. Aku berusaha sekuat mungkin menahannya. Saat aku melihatnya, dia tersenyum padaku. Aku membalasnya. Kemudian aku menggenggam tangannya yang juga sangat pucat. Dan dingin.
“Aku punya sesuatu untukmu.” Ia kemudian mengambil sebuah kotak berwarna merah yang sedari tadi ada di sampingnya. “Apa ini? apa boleh aku membukanya sekarang?” tanyaku.
“Jangan, aku mohon. Kau baru boleh membukanya saat aku tertidur. Dan sekarang, aku belum ingin tidur.” Jawabnya.
“Baiklah.”
“Evan,” katanya kemudian. Suaranya semakin melemah. Aku mendekatkan telingaku pada mulutnya, agar dia tidak bersusah payah menambah volume suaranya. “Tolong katakan pada mereka untuk berhenti menangis. Aku lelah, dan sekarang, aku ingin tidur.” Suara itu kian menghilang. Dan matanya kian menutup. Tangis mamanya pun pecah. Ia memeluk Awan. Mencium keningnya, dan berkali-kali memanggil namanya agar ia terbangun. Dan saat itulah, aku tidak bisa lagi membendung air mataku. Dia meninggalkanku. Dia meninggalkan kami, orang-orang yang mencintainya.
Semuanya sangat gelap. Air mata terus mengiringi kepergian Awan. Bahkan awan di langit seperti ikut bersedih karena kami telah kehilangannya. Banyak yang telah merasakan cinta darinya. Termasuk aku. Hatiku tidak beku lagi sepenuhnya. Cinta dari Awan sudah cukup mampu menghidupkan kembali cinta dalam hatiku.
Aku yakin harusnya aku menbencinya saat itu juga. Karena disaat aku ingin membagi cinta yang kupunya denganya, dia malah pergi meninggalkanku. Aku menghukumnya dengan terus berada di samping makamnya. Aku tidak akan melepasnya begitu saja. Tapi kemudian, aku teringat janjiku untuk membuka kotak itu. Aku ingat, aku meninggalkannya di dalam mobilku. Jadi, aku kesana. Kedalam mobilku, sendirian.
Aku mulai membuka kotak itu perlahan. Di dalamnya terdapat payung berwarna merah dan 2 surat. Aku mengambil yang paling atas, dalam surat itu tertulis:
‘Aku sangat suka payung ini. Jadi, aku ingin kau memakainya saat aku, sebagai ‘awan’ menurunkan hujan untuk menyejukkan bumi. Tapi, jika ada awan saat matahari bersinar, percayalah! itu bukan aku. Aku akan membiarkan matahari tetap di sana agar ia menjaga hatimu tetap hangat dan tidak beku lagi.’
Ujung bibirku tertarik ketika membaca kalimat terakhir. Kemudian membuka surat yang ke dua:
‘Ada yang mengatakan padaku, jika kita, sebagai manusia, akan mendapatkan cinta dari 3 orang di dunia ini. Pertama, kau akan mendapatkannya dari orang tuamu sendiri. Jadi, jika kau merasa tidak mendapatkannya dari mereka, kurasa kau harus berbicara pada mereka. Kedua, kau akan mendapatkannya dari teman-temanmu. Aku dan anak-anak di taman pernah memberikannya padamu, bukan? Dan yang terakhir, cinta dari pasanganmu. Aku berharap aku bisa memberikannya padamu. Tapi, aku tidak mungkin sanggup. Ini tugas yang berat. Aku tidak tahu bagaimana perempuan yang mungkin cocok untukmu. Tapi aku yakin, akan datang seseorang yang menemuimu, memberimu cinta, dan menjadikanmu teman hidupnya...’
Dia sudah datang. Tapi dia meninggalkanku. Air mataku kembali mengalir melewati pipiku dengan perlahan. Dan aku melanjutkan membaca surat itu,
‘Jangan pernah berfikir orang itu diriku! hehehe.. maaf, aku hanya bercanda. Yang pasti, orang itu akan lebih baik dariku. Dan mungkin, dia juga menyukai warna merah sepertiku, hehehe.. Maaf, aku tidak ingin menjadikan ini terlalu serius. Kau akan menemukannya. Aku sangat yakin itu. seseorang yang membuatmu merasakan cinta yang utuh. Jangan bilang kau tidak tahu rasanya cinta! Akan jadi sia-sia usahaku untuk bertahan lebih lama dari penyakit ini, hanya untuk mengajarimu tentang cinta kalau kau sendiri belum memahaminya.
Baiklah, aku akan memberi tahumu lagi. Cinta membuatmu merasa bahagia. Itu pasti. Cinta juga menghangatkan, membuat jantungmu berdegup kencang, dan bisa saja kau merasa sedih saat kau kehilangannya. Dan, Evan, aku ingin kau mengetahui sesuatu. Aku merasakan semua itu saat aku bersamamu. Dan, aku sedang menangis ketika kata demi kata kutuliskan untukmu dalam surat ini. Aku membayangkan betapa sedih dan kesepiannya saat aku mati, dan jauh darimu. Ya kurasa, aku mencintaimu. Sejak kau selalu membuatku tersenyum dengan kata-kata polosmu selama tiga hari yang indah itu.
Terima kasih telah menjadi temanku. Terima kasih telah menjadi bagian hidupku, walau disaat terakhir. Dan untuk yang terakhir kalinya aku katakan, aku mencintaimu’
☂☂☂☂☂
Terlalu sakit bila harus mengingat kalimat terakhir dalam suratmu itu. Dan, aku masih tidak mengerti kenapa aku selalu mempercayai kata-katamu. Apakah kau lihat? Sudah berbulan bulan sejak kepergianmu, dan sekarang aku sudah di perguruan tinggi, aku masih menanti kebenaran ucapanmu, di taman ini. Aku menantinya. Perempuan yang kau bilang akan datang padaku.

Hujan berhenti. Aku menutup payung merahku, dan tanpa sengaja seseorang menabrakku. “Maaf,” kata kami hampir bersamaan. “Payung yang bagus.” Katanya kemudian. Dia wanita yang cantik. Dan senyumnya, membuatku tersenyum juga. Dia perempuan dengan sepatu merah, celana jeans, mantel bulu merah, dan topi merah. Awan, mungkinkah dia?

0 comments:

Posting Komentar

Hubungi kami :

Twitter : @APAksara

Email : apaksara3@gmail.com

HP : 085773226995

Instagram: kapas3.aksara

Twitter

Translator