Senin, 03 Maret 2014

Say In Seine


          Aku Maldinia Sonata dengan cerita tentang Daniel Lamercier dan seluruh kebimbanganku di Paris, Perancis.
        Tetesan air mataku tak henti-hentinya mengalir dipipiku, bertolak belakang dengan air di sungai Seine yang tenang dalam diam. Seonggok pertanyaan terus melayangi fikiranku yaitu, kenapa? Banyak hal yang bertaut dalam masalahku dan aku hanya bisa bertanya, kenapa?

          Aku menyentuh air dari sungai Seine untuk melimpahkan segala pertanyaan kepadanya, kepada sungai ini aku bicara dalam batin yang terisak dan mulut yang terdiam mencari sebuah jalan keluar.

Ingatkah kau wahai sungai Seine?

Kau pertemukan aku dan dia disini, disungai Seine ini penghubung dari awal mula tujuanku untuk survey kebeberapa universitas untuk mengikuti freetest untuk mendapatkan beasiswa. Tetapi malahan kau pertemukan aku dengannya dalam sebuah kebetulan yang menyenangkan. Tetapi kenyataannya? Sekarang aku harus berurusan dengan sebuah keputusan yang menyesakkan.

Kata-kata penuh artinya diawal bertemu ketika ternyata aku menempati apartemen milik ibunya yang kini mulai aku sesalkan karna hal itu kini memenjarakan aku disebuah jalan yang menghantarkan aku kesebuah pelajaran hidup yang harus aku topang.
“ya, kebetulan sekali bukan?”

      Kemudian kau mulai terbangkan aku dalam persahabatan yang tidak aku sadari melayang terlalu jauh dari kata persahabatan. Ya.. aku memang menyukainya. Sikapnya yang baik, sopan, ramah, humoris membuatku selalu nyaman bila didekatnya. Sebelum terkuaknya sebuah rahasia awal dari semua kebimbangan ini.

          Aku mengetahuinya saat dia pingsan di lobi apartemen entah karna apa, akupun merasa bingung apa yang terjadi padanya? Toh kurasa selama ini dia baik-baik saja. Tetapi dalam pengaruh obat bius yang tidak dapat menyadarkannya. Dia berbicara seperti igauan yang sangat menyedihkan. Dia mengatakan sebuah penyakit yang ada pada dirinya, karna dia menyadari waktunya tinggal sebentar lagi. Dia sangat takut. Amat sangat takut meninggalkan orang-orang yang disayanginya terutama ibunya. Maka dari itu dia memohon kepadaku untuk mencegah siapapun untuk menyayanginya, dia tidak mau ada seseorang lagi yang sedih akan kepergiannya. Dia pun memohon untuk membantunya mencegah dirinya menyukai seseorang pula.

Setelah mendengar semua itu, sebaiknya apa yang harus aku lakukan Seine? Sedangkan aku sudah menyukainya dari awal kedekatanku selama ini dengannya.

          Emosiku terluap saat malam aku pulang dari rumah sakit tempatnya rawat inap. Hatiku terus berperang dan aku hanya bisa menangis bingung mencari sebuah jalan keluar. Haruskah aku melupakan dia dan pulang keindonesia secara diam-diam? Tapi kemudian, aku merasa sangat pengecut karna lari dari masalah dan membuang semua mimpi-mimpiku untuk belajar di paris. Tapi apakah aku harus melawan perasaan ku ini? Ya.. sebaiknya pun begitu. Ketika esok aku kembali kerumah sakit, aku bernafas lega karna dia sudah siuman. Sunggingan senyum yang terpampang dibibirnya membuatku lebur dalam haru dan melupakan semua keputusanku tadi malam.Dan aku menjalaninya, membuang semua pernyataannya walaupun masih terlekat erat dihatiku erangan permohonannya padaku.Kemudian dia berkata “maaf, aku tidak bisa menemanimu survey, aku kelelahan sangat kelelahan maka dari itu aku pingsan. Jangan marah ya, aku berjanji akan menemanimu jalan-jalan selama yang kamu mau he..he..he” guraunya yang aku balas dengan tersipu pilu.

          Penyakit jantung turunan..

10 tahun yang lalu, ayah Daniel pun meninggal karna penyakit yang diturunkan dari kakeknya dan sekarang diturunkan padanya. Itulah yang dideritanya, semua ini masih tertutup darinya padahal aku sudah mengetahuinya.Dia hanya mengeluh kelelahan jikala tiba-tiba dadanya terasa sakit dan sesak nafas yang hebat.Tetapi dia tetap tidak mau memberitahukan keadannya walau sudah terlihat jelas diraut wajahnya yang pucat.

Setelah hari itu berlalu. Ya..seperti genangan air sungaimu ini Seine. Tenang.Mengalir dalam diam.

          Lonjakan derasnya atau puncak masalahku aku rasakan kemarin. Saat festival kembang api di Eiffel berlangsung dan dia menyatakan perasaannya padaku dengan candle light dinner yang super romantic didepan menara Eiffel langsung yang ikut menyaksikan menjulang dengan kilauan sinarnya. Dikerumunan orang yang menatapku iri dan ditengah hamparan lilin yang mengelilingi meja dan kursi kami yang sudah disikapi kain putih.

Hey, Seine. Menurutmu apa yang kau rasakan jika diumurmu yang masih muda dan kau sudah merasakan sebuah pernyataan cinta yang sangat menakjubkan dikota yang sungguh romantis ini? Aku juga sangat speechless ketika dia juga mengatakan,
pertemuan kita dikebetulan yang menyenangkan membuatku sadar takdir ini memang seharusnya telah begini. Walau jarak perkenalan kita begitu singkat, memang sudah direncanakan ruhan unruk dipertemukan dan kini aku mengetahui arti dari ini semua. Aku hanya mau mengatakan bahwa aku menyukaimu..j’aimee”

          Aku yang sedang berhadapan dengan seorang lelaki yang sangat baik hanya bisa terdiam. Dan tiba-tiba terbuyarkan oleh letusan yang amat sangat menggelegar sampai kedada yaitu festival kembang api yang sudah dimulai. Mendadak dia langsung menghentakkan tangannya dan langsung memegang dada sebelah kirinya “maaf” rintihnya kesakitan karna kaget.

          Dan aku hanya bisa panic dengan seluruh rasa yang mencampur adukkan fikiranku. Aku tersadar, aku harusnya mencegah dia untuk menyukaiku.Aku juga seharysnya mencegah diriku sendiri untuk menyukainya pula. Aku berdiri dari kursiku, mulai tersadar apa sebenarnya yang harus aku lakukan.

“Ada apa, Dinia?” katanya bingung masih sambil memegangi dada sebelah kirinya, aku melirik sekilas kedada kirinya dan menjawab ketus.
“Aku tidak bisa Daniel, aku tidak bisa membalas perasaanmu.”
“Tapi.. kenapa? Selama ini kau selalu baik kepadaku?” katanya bingung dan aku meliriknya sinis,
“Dan kau kira dengan aku yang selalu berbuat baik kepadamu, aku menyukaimu ,begitu? Kau salah besar.” Kataku dan dia mulai menghela nafas panjang dengan raut wajah yang mengatakan aku tidak percaya kau mengatakan itu Dnia..

          Lalu karna melihat itu suaraku langsung melembut “Maafkan aku Daniel tapi aku tidak selamanya akan berada disini, aku disini hanya survey, lagipula kita berbeda agama, ras, Negara. Itu kurang aku tolerir. Aku berharap kau mengerti.” Dan aku langsung meninggalkannya dengan seluruh penyesalan yang memuakkan. Alasan yang sangat aneh terus menerus melayangi fikiranku.
Tetapi, baru 20 meter aku melangkah seorang wanita meneriakiku dengan keras “mademoisselleee..”

Aku langsung menoleh dan melihat kerumunan orang yang sedang mengerumuni Daniel. Aku langsung berlari kearahnya sambil menelfon 911 untuk memanggil ambulance. Ketika ambulance dating dan dia diangkat kekursi dorong aku berlari mengikutinya dambil masih menggenggam tangannya erat-erat. Disela-sela serangan jantungnya dia berkata

“Tolonglah Dinia, tolonglah pertimbangkan perasaanku..” sebelum aku menjawab, dia sudah didorong masuk kedalam ambulance. Tanganku masih menggenggam tangannya dan digenggaman tangannya ada sebuah kalung mutiara berinisial DD..

Aku mengikutinya sampai kerumah sakit dengan tampang pucat, apa yang sudah aku lakukan?penolakanku membuatnya shock dan kembali mendapatkan serangan jantung.

Aku menunggunya, terus menunggunya  masih sambil menggenggam erat-erat kalung pemberiannya sampai dokter keluar dan mengatakan bahwa Daniel koma. Aku langsung lemas dan menangis diruang tunggu, ibu Daniel sudah aku hubungi dan ia menangis pilu. Sampai malam larut aku pulang, fikiranku kosong sampai tiba diapartemen aku baru merasakan kepedihan hati yang sangat kacau.Sampai pagi tiba, aku tidak tidur.Pagi-pagi buta aku berjalan terseok-seok kesungai Seine untuk menenangkan hati.Tetapi rasa bersalahku malahan semakin menadi-jadi mengingat awal mula kita berdua bertemu disini.

          Dan sekarang tepatnya disinilah aku sekarang.Aku menatap kalung berinisial DD ini.Setelah sekian lama merenung akhirnya aku membuat keputusan. Aku akan menunggunya siuman dan akan menyatakan perasaanku. Tetapi ketika aku kesana, tuhan berkehendak lain. Tiba disana aku hanya melihat kerumunan orang berbaju putih , suara detak jantung yang monoton, disertai garis merah yang terus berjalan.

Dan akhinya Daniel Lamercier-pun pergi.

Aku menangis sejadi-jadinya. Aku terus mengutuki diri sendiri mengapa aku sangat bodoh menunda apa yang harus aku sampaikan. Aku hanya mau bilang Daniel, Aku menyukaimu..
Tapi kenapa kau tidak mau bersabar menunggu untuk aku mengatakannya..kenapa?

          Koperku sudah siap. Aku berjalan pulang ke Indonesia dibandara Charles de gaulle. Sejenak aku berhenti dan duduk disamping sungai Seine. Helaan nafasku terasa berat sebelum aku mengapungkan sebuah perahu kertas bertuliskan puisi hati yang melegakan, juga kalung mutiara berinisialkan DD, yang aku tenggelamkan.

Sesungguhnya, mungkin Sungai Seine ini bisa menyampaikan isi hatiku kepadanya karena sungai Seine ini yang mempertemukan kami..
Aku harap disana dia bisa mendengarnya..


Never seek to tell thy love
Love that never told can be
For the gentle wind the move
Silently, silently

I told my love, I told my love
I told him all my heart
Trembling, cold, in ghastly fears
Hmm..he did depart

Soon after he was gone from me
A traveller came by silently invisibly
He took her with a sigh
(Ilana Tan) 

0 comments:

Posting Komentar

Hubungi kami :

Twitter : @APAksara

Email : apaksara3@gmail.com

HP : 085773226995

Instagram: kapas3.aksara

Twitter

Translator