Senin, 03 Maret 2014

Skandal Cinta


            Kita semua tahu, ketika kita berhasil memiliki orang yang kita cintai, kelanjutan hubungan kita tak pernah semulus kalimat ‘hidup bahagia selamanya’ seperti pada dongeng anak-anak. Kita akan benar-benar bahagia bersama cinta bila kita dapat bersyukur atas keberadaan cinta. Dan untuk itu, Maya perlu melewati proses yang menyusahkan. Seperti yang dialaminya waktu itu, yang bermula ketika ia dan Alan pulang makan malam bersama teman-teman mereka.
“Sebenarnya apa yang terjadi padamu belakangan ini?” kata Alan tiba-tiba.
“Aku baik-baik saja. Apa ada yang salah denganku?”
“Apa kamu tidak merasakannya? Oh! Tentu saja, bagaimana bisa aku berfikir kamu dapat merasakannya.”
“Kenapa kamu tiba-tiba berkata seperti itu? Aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan.”
“Kamu akhir-akhir ini terlau manja! Tahu?”
“Manja? Kamu menyebutku manja? Memangnya salah bila aku manja terhadapmu?”
“Tidak. Tapi kemanjaanmu sudah berlebihan. Kamu ingat, tadi kamu memintaku melakukan hal-hal yang, kamu tahu, aku tidak menyukainya. Seperti mencium keningmu di depan umum.”
“Kenapa? Kamu malu melakukannya? Atau kamu tidak ingin orang lain mengetahui hubungan kita?”
“Untuk apa aku melakukannya? Toh, teman-teman kita di sekolah sudah mengetahuinya. Mengetahui hubungan kita. Dan mengetahui bahwa kita di jodohkan...”
“Jadi kamu berhubungan denganku hanya karena kita di jodohkan? Dan kamu tidak benar-benar mencintaiku? Begitu?”
“Tidak, May. Dengarkan aku, kamu sendiri juga tahu aku menyatakan cintaku padamu, bahkan saat aku tahu kita dijodohkan. Aku benar-benar jatuh cinta kepadamu, May. Tapi, mengertilah, aku punya cara sendiri untuk menunjukkannya padamu.”
“Alan, tolong, kamu membuat perdebatan ini tak akan berujung. Dan aku lelah. Aku juga sedang tidak ingin berdebat denganmu sekarang.”
“Bagaimana bisa aku yang... Ah sudahlah. Aku tahu, percuma berbicara denganmu di saat seperti ini.” Kemudian mereka terdiam.
“Kita sampai.” Kata Alan.
Alan keluar dari mobilnya, diikuti Maya. Wajah keduanya masam. Sejenak, mereka saling menatap. Dan masih ada sedikit rasa yang selalu mereka rasakan dalam tatapan itu. Rindu. “Selamat istirahat. Kita akan bertemu lagi besok.” Kata Alan kemudian, sambil menggenggam tangan Maya sebentar. Suaranya hampir terlalu datar. Tanpa perlu menunggu Maya berjalan masuk, ia sudah berlalu dalam mobilnya. Itu malam yang aneh, seaneh perubahan yang dirasakan mereka satu sama lain.
Besoknya, tanpa disengaja mereka bertemu di kantin. Dan itu saat-saat menyebalkan bagi Maya. Setelah ini Alan pasti akan mengajaknya duduk. Memandangi satu sama lain untuk merenungi kesalahan masing-masing. Berdiam dalam kesunyian. Hingga keduanya mampu berpikir jernih.
Hampir setengah jam berlalu. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka. Tak ada kata maaf. Tak ada ungkapan penyesalan. Hati keduanya memang sekeras batu. Tapi bisa berubah menjadi selembut kulit bayi bila saling menghawatirkan satu sama lain. Tapi tidak kali ini. Kata ‘maaf’ terlalu berat bagi mereka untuk diucapkan. Tidak untuk  Maya yang jelas-jelas, merasa, kekasihnya itu terlalu berlebihan menyebutnya ‘terlalu’ manja. Begitu pula dengan Alan yang merasa semua yang diucapkannya adalah benar bahwa Maya menjadi terlalu manja belakangan ini.
Ya. Perubahan. Itu pasti bisa membuat mereka lebih lama bertengkar dibanding kecemburuan. Dan diam, adalah satu-satunya cara mereka bertengkar, sekaligus menyelesikan masalah.
Hingga bel masuk berbunyi, kata ‘maaf’ belum terucap dari mulut siapa pun. “Aku harus ke kelas.” Kata Maya. Alan mengangguk. Dan ditinggalnya sendirian disana. Menunggu Maya cukup jauh di depannya hingga dia bisa bangkit dan kembali ke kelasnya.
Maya benar-benar berpikir keras tentang siapa yang bersalah atas semua ini. Apa benar ia menjadi terlalu manja untuk Alan? Apa ia harus mengalah dan mengakui bahwa Alan benar? Ini harus diselesaikan secepatnya sebelum hubungan kami semakin memburuk, pikirnya. Bel berbunyi saat itu juga. Saat rencana Maya untuk ‘berfikir sendirian’ tersusun sempurna.
“Kak,” kata Maya begitu melihat Alan tengah menuggunya di depan mobil. Dan, panggilan itu terasa asing untuk mereka. “Aku pulang sendiri saja.” Lanjutnya.
“Yakin?” jawab Alan. Masih dengan ekspresi dan nada bicara yang sama seperti malam sebelumnya. Maya hanya mengangguk. “Yaudah, hati-hati di jalan. Kalau mau pergi, pulangnya jangan terlalu sore.” Kata Alan menasihati. “Dah,” lanjutnya, sambil tersenyum, walau terlihat agak dipaksakan. Maya juga melakukan hal yang sama.
 Entah jenis cinta apa yang menyelimuti mereka, hingga mereka masih bisa begitu tenang saat berbicara dalam ‘kediaman’ mereka. Maya masih mematung di tempat memandangi mobil Alan yang membelok keluar area sekolah. Kemudian dia mulai menjalankan rencananya.
Maya terus berjalan. Dan, entah bagaimana, kakinya membawa dia ke sebuah café, tempat ketika terakhir kali makan malam bersama Alan dan teman-temannya. Maya duduk dan memesan lemon tea agar bisa berfikir lebih lama di sana. Diminumnya lemon tea itu. Ia bisa merasakan tenggorokannya basah karenanya. Sangat segar dan melegakan. Ia hampir bisa merasakan otaknya ikut tersiram oleh lemon tea itu dan, ia rasa, ia bisa berfikir jernih sekarang. Di perhatikannya meja di dekat ia duduk, meja tempat ia makan bersama Alan malam itu, berharap bisa mengingat kejadian malam itu dengan sangat rinci, hingga ia bisa menemukan jawaban mengapa kekasihnya sampai tidak tahan dengan kelakuannya.
*Malam itu, di sana, saat Maya tidak mengetahui apa yang telah diperbuatnya. Ia bilang pada teman-temannya bahwa ia mulai mengantuk. “Aku harus pulang,” katanya.
“Apa kau mendapat sesuatu yang istimewa dari Alan sebelum kamu tidur?” kata salah satu temannya.
“Tentu saja. Alan, ayo tunjukkan pada mereka.” Katanya sambil menunjuk pada keningnya.
“Sudahlah, ayo kita pulang.” Jawab Alan. Dan tanpa memperdulikan teman-teman Maya, mereka segera pergi dari tempat itu.*
“Ah! Jadi itu. Sekarang aku mengerti. Bagaimana aku bisa lupa sifat Alan. Ia sama sekali tidak menyukai kebohongan, dan ia tidak pernah mau mengumbar hubungan kami.” Gumam Maya pada dirinya sendiri.
Maya menelpon Alan, berharap mereka bisa bertemu dan masalah mereka selesai secepat mungkin. Tapi usahanya sia-sia. Handphone Alan tidak aktif. Ini membuat Maya kesal. Tapi kemudian ia ingat betapa ia sangat merindukan perhatian Alan yang mampu menghangatkan hatinya. Betapa ia tak ingin terlalu sering bertengkar dengan Alan, karena itu sangat menyiksa. Ia mencoba tenang dan bersabar. Sebisa mungkin memikirkan betapa senangnya bisa berbaikan dengan kekasihnya esok hari. Ia pergi dari tempat itu dan pulang. Wajahnya sangat bahagia, hampir seperti anak kecil yang baru saja dibelikan permen lolipop. Langkahnya sangat ringan tanpa beban.
♡♡♡♡♡
Esoknya, Maya terlalu sibuk mempersiapkan ulangan. Ulangan yang hampir ia lupakan karena selalu membayangkan betapa rasa rindunya akan terbayar ketika sampai di sekolah. Ulangan yang membuatnya tidak memiliki kesempatan untuk bertemu dengan Alan. Ulangan biologi. Mata pelajaran yang mengharuskannya menghapal organ-organ manusia dan jumlah-jumlah tulang bila ingin mendapat nilai sempurna.
120 menit berlalu. Maya berhasil melewatinya dengan penuh percaya diri. Dan bel istirahat berbunyi. Menandakan waktu mengerjakan soal berakhir.  Maya mengumpulkan jawabannya dengan langkah pasti. Dan yang pasti, ia sangat bersemangat untuk keluar kelas, menemui Alan.
“Permisi, Kak. Apa Kak Alan ada di kelas?” tanya Maya pada salah satu teman sekelas Alan. “Oh, Alan.” Jawabnya. Kemudian ia mencari sosok itu dalam kelas. “Dia ada di sana.” Katanya sambil menunjuk ke arah Alan yang sedang duduk di kursi paling belakang ruangan itu.
Kemudian Maya menengok ke arah Alan. Dan betapa terkejutnya ia melihat Alan sedang bersenda gurau bersama seorang perempuan yang duduk di sebelahnya. Rasanya ia ingin langsung pergi, lari dari sana. Tapi Maya terlalu pintar untuk melakukan hal memalukan itu. Ia justru mematung. “Alan, ada yang mencarimu!” teriak siswa tadi. Sontak Alan menoleh. Dilihatnya Maya dengan wajah hampir memerah. “Maya,” katanya pelan. Ia langsung bangkit dan menghampiri Maya, meninggalkan perempuan tadi tetap pada posisinya.
Kini mereka berhadapan. Dan terdiam. “Aku hanya ingin bertanya, kenapa handphone-mu tidak aktif sejak kemarin?” tanya Maya. Dan suaranya seperti bergetar. “Oh, handphone-ku jatuh ke kolam. Dan mati total. Maaf kalau ini terdengar seperti sebuah alasan yang tidak masuk akal. Tapi aku berkata jujur.” Jawab Alan.
“Oh, yasudah.” Maya berbalik dan langsung pergi.
“Maya!” Terdengar suara Alan seperti hendak mengejarnya. Tapi kemudian kakinya tertahan. “Alan, tunggu. Kamu tentu tidak ingin terjadi perdebatan saat berhasil mengejarnya, bukan? Atau lebih parahnya ia akan memintamu memutuskan hubungan kalian.” Kata Sheril. Perempuan yang telah membuat Maya cemburu buta.
“Begitukah? Tapi Maya akan berfikir aku tidak perduli dengannya bila aku tidak mengejarnya.”
“Entahlah. Tapi itu yang aku lihat di film-film. Orang yang kamu kejar tidak akan menerima segala alasanmu dan akhirnya dia akan memintamu memutuskan hubungan.” Jawab Sheril polos.
“Kalau begitu, aku sarankan kamu untuk tidak banyak menonton film seperti itu lagi agar kamu bisa berfikir rasional!” ledek Alan sambil mengacak rambut Sheril gemas. Dan dia tersenyum.
“Hey! Jangan lakukan itu lagi!” jawabnya sambil menata kembali rambutnya. “Aku serius. Kekasihmu itu mungkin sedang membutuhkan waktu sendiri. Ia pasti telah berfikir yang tidak-tidak tadi.” Lanjut Sheril.
“Kamu benar. Ayo, kita kembali ke kelas.” Hingga pulang sekolah, Maya juga tak nampak di hadapan Alan seperti biasanya. Maya pulang lebih dahulu dan membiarkan Alan menunggunya di area parkir.
♡♡♡♡♡
Pendidikan jasmani, pelajaran pertama kelas Maya dihari Rabu yang cerah itu. “Materi kita hari ini lari 200 meter.” Kata pak Bono, setelah semua murid selesai melakukan pemanasan. Kemudian ia menjelaskan cara penilaian yang dirasa menantang bagi anak-anak itu. Yaitu mereka akan mendapat nilai 90 bila waktu mereka kurang dari 30 detik. Semua menerima tantangan itu.
Tiba giliran Maya dan tiga teman lainnya untuk penilaian. “Bersedia,” Pak Bono memberi aba-aba, “Siap. Ya!” lanjutnya sambil menekan tombol pada stopwatch-nya. Maya berlari secepat mungkin. Dan saat ia hampir menyelesaikan larinya, Alan terdengar menyemangatinya dari pinggir lapangan. “Ayo Maya! Semangat!” teriaknya, mengagetkan Maya. Sontak Maya terkejut dan langsung menoleh ke arah datangnya suara. Ia jadi tidak memperhatikan langkahnya, hingga... BRUUKK!!
Maya tersandung kakinya sendiri. Ia jatuh terselungkup di atas lapangan yang dirasa tidak terlalu mulus itu. Beberapa siswi telihat menghampirinya. Berharap bisa melihat keadaan Maya dan menolongnya. Terlihat beberapa siswi membantunya berdiri. Kemudian ia berjalan keluar area lari itu agar tidak mengganggu penilaian yang lain. Maya masih terduduk membersihkan baju dan tangannya yang kotor. “Aaw!” Maya merintih menahan rasa perih pada lengannya. Beberapa orang masih terlihat mengerumuninya. Saat itu pula sosok Alan muncul dari balik keramaian itu. Ia jongkok, memandang Maya dengan rasa bersalah. Dilihatnya luka gores pada lengan kekasihnya. Sedangkan Maya hanya bisa memandang Alan. Dalam hatinya masih kesal mengingat apa yang dilakukan Alan pada perempuan lain dibelakangnya, setidaknya itu hanya dugaan Maya.
“Perih ya? Ayo, aku bawa ke UKS.” Kini nada suara Alan benar-benar berubah dari sebelumnya. Suaranya sangat lembut dan penuh kekhawatiran.
“Tidak perlu. Aku baik-baik saja. Dan aku bisa membersihkannya sendiri.” Jawab Maya.
“Tidak bisa. Ini harus segera diobati, agar tidak terjadi infeksi.” Alan terdengar memaksa. Dia kemudian memina izin pada Pak Bono untuk membawa Maya ke UKS. Ia diizinkan. “Tunggu!” kata Pak Bono ketika Alan mencoba membujuk Maya kembali. “Kamu kelas berapa?” lanjutnya.
“Kelas XII IPA 7, Pak.” Jawab Alan ragu. Ia sadar sedang dicurigai membolos pelajaran oleh Pak Bono.
“Pelajaran apa sekarang?” tanya Pak Bono dengan nada suara menegas.
“Pelajaran Seni Budaya, Pak.”
“Kenapa kamu tidak berada di kelas?”
“Guru yang harusnya mengajar sakit, Pak, dan kami hanya disuruh menyelesaikan tugas minggu kemarin bagi yang belum selesai, sedangkan saya sudah menyelesaikannya. Jadi saya ke sini.”
“Yasudah, kamu boleh membawa Maya ke UKS.”
Alan pun kembali membujuk Maya yang masih duduk. “Ayolah, May. Aku takut luka kamu infeksi.” Kata Alan. “Dan, aku juga ingin berbicara dengan kamu.” Lanjutnya.
Maya langsung melirik ke arah teman-temannya. Ia yakin teman-temannya akan mengira-ngira apa yang terjadi pada Maya dan Alan, kemudian mewawancarainya begitu kembali ke kelas. Tentu Maya tidak ingin bertengkar dengan Alan dihadapan teman-temannya. Jadi ia menuruti keinginan Alan untuk pergi ke UKS. Alan langsung membantunya bangun dan menuntunnya berjalan. Maya tampak masih pincang dan kakinya sedikit gemetar karena terkejut atas insiden itu.
Tapi, setelah mereka agak jauh dari lapangan, Maya tiba-tiba menyingkirkan tangan Alan dari pinggangnya dengan kasar. “Aku bisa berjalan sendiri.” Katanya. Tapi suaranya sedikit gemetar menahan rasa kesal pada Alan. Alan diam. Dan menerima perlakuan kekasihnya itu. Walau sebenarnya, ia ingin sekali memarahi Maya. Kini Alan berjalan tepat satu langkah dibelakang Maya. Memperhatikan punggung kekasihnya yang berjalan lambat sambil sesekali bertumpu pada tembok, dalam hatinya ia menyusun kata-kata yang akan meyakinkan Maya bahwa perselingkuhan itu tidak benar.
Setelah sampai di UKS, Maya langsung duduk di atas ranjang putih itu, sedangkan Alan mengambilkannya segelas air mineral. “Ini, minum dulu.” Katanya. Maya mengambil gelas itu dari Alan dan meminum sedikit air dari gelas itu, kemudian meletakannya diatas meja di dekatnya. “Ayo, aku akn membersihkan lukamu.” Kata Alan sambil mengulurkan tangannya, berharap tangan Maya menyambutnya untuk membantu dia turun dari ranjang. Tapi Maya sama sekali tidak mengindahkan harapan Alan. Ia turun sendiri dengan kasur dan tembok sebagai tumpuannya, dan berjalan ke arah washtuffle, melewati Alan begitu saja tanpa memandangnya. Tapi Alan tak langsung putus asa. Diikutinya Maya sampai di washtuffle. Ia tahu luka itu akan perih bila terkena air.
“Aw!” rintih Maya begitu air mengalir melewati lukanya.
“Pelan-pelan. Sini, aku saja yang membersihkannya.”
“Tidak perlu, kamu tidak tahu rasa sakit yang aku rasakan.” Jawab Maya sedikkit menyindir. “Ck,” keluh Alan. Kini ia benar-benar kesal atas perlakuan Maya terhadapnya. Diraihnya tangan Maya dengan tangan kanan, sedang tangan kirinya menadah air. Dialirinya air itu ke luka Maya dengan lembut. Wajah keduanya benar-benar dalam ekspresi yang tidak baik saat itu.
Setelah merasa cukup, Alan meminta Maya untuk kembali duduk diatas ranjang. Ia sendiri mengambil kotak P3K. Ditetesinya kapas dengan obat merah. “Yang kemarin itu,” katanya tiba-tiba, “Aku dan Sheril hanya teman.” Lanjutnya.
“Teman tapi mesra?” balas Maya sinis.
“Bukan. Hanya teman biasa.” Jawab Alan, mencoba sabar. Kemudian Alan mengusap luka Maya dengan kapas itu dengan sangat hati-hati.
Maya terdiam. “Yakin?” katanya kemudian. Dipandangnya mata Alan penuh harap.
Alan balik menatapnya yakin. “Tidak ada niat sedikit pun untuk menghianati kamu.” Jawabnya. Maya kembali terdiam. Terpesona akan kata-kata Alan.
“Maaf,” Kata Maya. “Karena sudah jadi menyebalkan. Kamu benar, aku memang terlalu manja belakangan ini. Dan itu yang ingin aku bicarakan denganmu sejak kemarin. Tapi aku terlanjur ngeliat kamu sama dia...”
“Kamu cemburu. Aku mengerti. Dan aku suka kamu cemburu, karena artinya kamu tidak mau kehilangan aku. Iya, kan?” goda Alan dengan senyum nakalnya, sambil menutup luka itu dengan sedikit plester. Alan terlihat sangat terampil dengan peralatan itu.
“Siapa yang kamu sebut cemburu? Aku tidak cemburu.” Balas Maya. Kini wajahnya memerah karena malu dan mengakui dalm hati bahwa apa yang dikatakan Alan adalah benar. Alan hanya tersenyum mendengan jawaban kekasihnya itu.
Sejenak, Maya memperhatikan Alan begitu berhati-hati terhadap lukanya. Ah! Beginilah cara dia memanjakanku. Dengan selalu memperhatikanku, dan ada di dekatku ketika aku butuh. Kenapa aku meminta lebih? Dan kenapa pula aku tidak menyadarinya? batin Maya.
Tidak lama kemudian, Alan selesai dengan pekerjaannya. Dan merasa puas atas pengobatan yang rapi itu. “Hey, Ayam! Kenapa kamu memperhatikan aku seperti itu?” Alan kembali menggoda Maya saat ia menyadari sedang diperhatikan kekasihnya itu. “Pasti kamu sedang berbicara pada dirimu sendiri bahwa apa yang aku ucapkan benar, kan?” lanjutnya.
“Hey! Berhenti memanggilku ayam! Namaku Maya, tahu! Memangnya kamu mau bertunangan dengan ayam, hah?” jawab Maya sedikit membentak. Sejenak ia memandang Alan sinis, kemudian mengalihkan pandangannya. Dan senyum nakal pun hilang seketika dari wajah Alan.
“Dan kenapa uacapanmu selalu benar?” kata Maya pelan. Alan kembali tersenyum. Bukan senyum nakal, tapi senyum bahagia. Dia yang sedang berdiri tepat didepan Maya, langsung memeluk kekasihnya itu. Membiarkan Maya membenamkan wajahnya pada perut Alan yang hangat.

Maya balas memeluknya. Ia bisa merasakan detak jantung Alan, yang lebih terdengar seperti lagu menenangkan baginya. Dan membiarkan jantungnya berdebar, seperti biasa, ketika Alan berhasil meluluhkan hatinya.

0 comments:

Posting Komentar

Hubungi kami :

Twitter : @APAksara

Email : apaksara3@gmail.com

HP : 085773226995

Instagram: kapas3.aksara

Twitter

Translator