Kita semua tahu, ketika kita
berhasil memiliki orang yang kita cintai, kelanjutan hubungan kita tak pernah
semulus kalimat ‘hidup bahagia selamanya’ seperti pada dongeng anak-anak. Kita
akan benar-benar bahagia bersama cinta bila kita dapat bersyukur atas
keberadaan cinta. Dan untuk itu, Maya perlu melewati proses yang menyusahkan.
Seperti yang dialaminya waktu itu, yang bermula ketika ia dan Alan pulang makan
malam bersama teman-teman mereka.
“Sebenarnya
apa yang terjadi padamu belakangan ini?” kata Alan tiba-tiba.
“Aku
baik-baik saja. Apa ada yang salah denganku?”
“Apa
kamu tidak merasakannya? Oh! Tentu saja, bagaimana bisa aku berfikir kamu dapat
merasakannya.”
“Kenapa
kamu tiba-tiba berkata seperti itu? Aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan.”
“Kamu
akhir-akhir ini terlau manja! Tahu?”
“Manja?
Kamu menyebutku manja? Memangnya salah bila aku manja terhadapmu?”
“Tidak.
Tapi kemanjaanmu sudah berlebihan. Kamu ingat, tadi kamu memintaku melakukan
hal-hal yang, kamu tahu, aku tidak menyukainya. Seperti mencium keningmu di
depan umum.”
“Kenapa?
Kamu malu melakukannya? Atau kamu tidak ingin orang lain mengetahui hubungan
kita?”
“Untuk
apa aku melakukannya? Toh, teman-teman kita di sekolah sudah mengetahuinya.
Mengetahui hubungan kita. Dan mengetahui bahwa kita di jodohkan...”
“Jadi
kamu berhubungan denganku hanya karena kita di jodohkan? Dan kamu tidak
benar-benar mencintaiku? Begitu?”
“Tidak,
May. Dengarkan aku, kamu sendiri juga tahu aku menyatakan cintaku padamu,
bahkan saat aku tahu kita dijodohkan. Aku benar-benar jatuh cinta kepadamu,
May. Tapi, mengertilah, aku punya cara sendiri untuk menunjukkannya padamu.”
“Alan,
tolong, kamu membuat perdebatan ini tak akan berujung. Dan aku lelah. Aku juga
sedang tidak ingin berdebat denganmu sekarang.”
“Bagaimana
bisa aku yang... Ah sudahlah. Aku tahu, percuma berbicara denganmu di saat
seperti ini.” Kemudian mereka terdiam.
“Kita
sampai.” Kata Alan.
Alan
keluar dari mobilnya, diikuti Maya. Wajah keduanya masam. Sejenak, mereka saling
menatap. Dan masih ada sedikit rasa yang selalu mereka rasakan dalam tatapan
itu. Rindu. “Selamat istirahat. Kita akan bertemu lagi besok.” Kata Alan
kemudian, sambil menggenggam tangan Maya sebentar. Suaranya hampir terlalu
datar. Tanpa perlu menunggu Maya berjalan masuk, ia sudah berlalu dalam
mobilnya. Itu malam yang aneh, seaneh perubahan yang dirasakan mereka satu sama
lain.
Besoknya,
tanpa disengaja mereka bertemu di kantin. Dan itu saat-saat menyebalkan bagi Maya.
Setelah ini Alan pasti akan mengajaknya duduk. Memandangi satu sama lain untuk
merenungi kesalahan masing-masing. Berdiam dalam kesunyian. Hingga keduanya
mampu berpikir jernih.
Hampir
setengah jam berlalu. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka.
Tak ada kata maaf. Tak ada ungkapan penyesalan. Hati keduanya memang sekeras
batu. Tapi bisa berubah menjadi selembut kulit bayi bila saling menghawatirkan
satu sama lain. Tapi tidak kali ini. Kata ‘maaf’ terlalu berat bagi mereka
untuk diucapkan. Tidak untuk Maya yang
jelas-jelas, merasa, kekasihnya itu terlalu berlebihan menyebutnya ‘terlalu’ manja.
Begitu pula dengan Alan yang merasa semua yang diucapkannya adalah benar bahwa Maya
menjadi terlalu manja belakangan ini.
Ya.
Perubahan. Itu pasti bisa membuat mereka lebih lama bertengkar dibanding
kecemburuan. Dan diam, adalah satu-satunya cara mereka bertengkar, sekaligus
menyelesikan masalah.
Hingga
bel masuk berbunyi, kata ‘maaf’ belum terucap dari mulut siapa pun. “Aku harus
ke kelas.” Kata Maya. Alan mengangguk. Dan ditinggalnya sendirian disana.
Menunggu Maya cukup jauh di depannya hingga dia bisa bangkit dan kembali ke
kelasnya.
Maya
benar-benar berpikir keras tentang siapa yang bersalah atas semua ini. Apa
benar ia menjadi terlalu manja untuk Alan? Apa ia harus mengalah dan mengakui
bahwa Alan benar? Ini harus diselesaikan
secepatnya sebelum hubungan kami semakin memburuk, pikirnya. Bel berbunyi
saat itu juga. Saat rencana Maya untuk ‘berfikir sendirian’ tersusun sempurna.
“Kak,”
kata Maya begitu melihat Alan tengah menuggunya di depan mobil. Dan, panggilan
itu terasa asing untuk mereka. “Aku pulang sendiri saja.” Lanjutnya.
“Yakin?”
jawab Alan. Masih dengan ekspresi dan nada bicara yang sama seperti malam
sebelumnya. Maya hanya mengangguk. “Yaudah, hati-hati di jalan. Kalau mau
pergi, pulangnya jangan terlalu sore.” Kata Alan menasihati. “Dah,” lanjutnya,
sambil tersenyum, walau terlihat agak dipaksakan. Maya juga melakukan hal yang
sama.
Entah jenis cinta apa yang menyelimuti mereka,
hingga mereka masih bisa begitu tenang saat berbicara dalam ‘kediaman’ mereka. Maya
masih mematung di tempat memandangi mobil Alan yang membelok keluar area
sekolah. Kemudian dia mulai menjalankan rencananya.
Maya
terus berjalan. Dan, entah bagaimana, kakinya membawa dia ke sebuah café, tempat ketika
terakhir kali makan malam bersama Alan dan teman-temannya. Maya duduk dan
memesan lemon tea agar bisa berfikir lebih lama di sana. Diminumnya lemon tea
itu. Ia bisa merasakan tenggorokannya basah karenanya. Sangat segar dan
melegakan. Ia hampir bisa merasakan otaknya ikut tersiram oleh lemon tea itu
dan, ia rasa, ia bisa berfikir jernih sekarang. Di perhatikannya meja di dekat
ia duduk, meja tempat ia makan bersama Alan malam itu, berharap bisa mengingat
kejadian malam itu dengan sangat rinci, hingga ia bisa menemukan jawaban
mengapa kekasihnya sampai tidak tahan dengan kelakuannya.
*Malam
itu, di sana, saat Maya tidak mengetahui apa yang telah diperbuatnya. Ia bilang
pada teman-temannya bahwa ia mulai mengantuk. “Aku harus pulang,” katanya.
“Apa
kau mendapat sesuatu yang istimewa dari Alan sebelum kamu tidur?” kata salah
satu temannya.
“Tentu
saja. Alan, ayo tunjukkan pada mereka.” Katanya sambil menunjuk pada keningnya.
“Sudahlah,
ayo kita pulang.” Jawab Alan. Dan tanpa memperdulikan teman-teman Maya, mereka
segera pergi dari tempat itu.*
“Ah!
Jadi itu. Sekarang aku mengerti. Bagaimana aku bisa lupa sifat Alan. Ia sama
sekali tidak menyukai kebohongan, dan ia tidak pernah mau mengumbar hubungan
kami.” Gumam Maya pada dirinya sendiri.
Maya
menelpon Alan, berharap mereka bisa bertemu dan masalah mereka selesai secepat
mungkin. Tapi usahanya sia-sia. Handphone Alan tidak aktif. Ini membuat Maya
kesal. Tapi kemudian ia ingat betapa ia sangat merindukan perhatian Alan yang
mampu menghangatkan hatinya. Betapa ia tak ingin terlalu sering bertengkar
dengan Alan, karena itu sangat menyiksa. Ia mencoba tenang dan bersabar. Sebisa
mungkin memikirkan betapa senangnya bisa berbaikan dengan kekasihnya esok hari.
Ia pergi dari tempat itu dan pulang. Wajahnya sangat bahagia, hampir seperti
anak kecil yang baru saja dibelikan permen lolipop. Langkahnya sangat ringan
tanpa beban.
♡♡♡♡♡
Esoknya,
Maya terlalu sibuk mempersiapkan ulangan. Ulangan yang hampir ia lupakan karena
selalu membayangkan betapa rasa rindunya akan terbayar ketika sampai di
sekolah. Ulangan yang membuatnya tidak memiliki kesempatan untuk bertemu dengan
Alan. Ulangan biologi. Mata pelajaran yang mengharuskannya menghapal
organ-organ manusia dan jumlah-jumlah tulang bila ingin mendapat nilai
sempurna.
120
menit berlalu. Maya berhasil melewatinya dengan penuh percaya diri. Dan bel
istirahat berbunyi. Menandakan waktu mengerjakan soal berakhir. Maya mengumpulkan jawabannya dengan langkah
pasti. Dan yang pasti, ia sangat bersemangat untuk keluar kelas, menemui Alan.
“Permisi,
Kak. Apa Kak Alan ada di kelas?” tanya Maya pada salah satu teman sekelas Alan.
“Oh, Alan.” Jawabnya. Kemudian ia mencari sosok itu dalam kelas. “Dia ada di
sana.” Katanya sambil menunjuk ke arah Alan yang sedang duduk di kursi paling
belakang ruangan itu.
Kemudian
Maya menengok ke arah Alan. Dan betapa terkejutnya ia melihat Alan sedang
bersenda gurau bersama seorang perempuan yang duduk di sebelahnya. Rasanya ia
ingin langsung pergi, lari dari sana. Tapi Maya terlalu pintar untuk melakukan
hal memalukan itu. Ia justru mematung. “Alan, ada yang mencarimu!” teriak siswa
tadi. Sontak Alan menoleh. Dilihatnya Maya dengan wajah hampir memerah. “Maya,”
katanya pelan. Ia langsung bangkit dan menghampiri Maya, meninggalkan perempuan
tadi tetap pada posisinya.
Kini
mereka berhadapan. Dan terdiam. “Aku hanya ingin bertanya, kenapa handphone-mu
tidak aktif sejak kemarin?” tanya Maya. Dan suaranya seperti bergetar. “Oh,
handphone-ku jatuh ke kolam. Dan mati total. Maaf kalau ini terdengar seperti
sebuah alasan yang tidak masuk akal. Tapi aku berkata jujur.” Jawab Alan.
“Oh,
yasudah.” Maya berbalik dan langsung pergi.
“Maya!”
Terdengar suara Alan seperti hendak mengejarnya. Tapi kemudian kakinya
tertahan. “Alan, tunggu. Kamu tentu tidak ingin terjadi perdebatan saat
berhasil mengejarnya, bukan? Atau lebih parahnya ia akan memintamu memutuskan
hubungan kalian.” Kata Sheril. Perempuan yang telah membuat Maya cemburu buta.
“Begitukah?
Tapi Maya akan berfikir aku tidak perduli dengannya bila aku tidak
mengejarnya.”
“Entahlah.
Tapi itu yang aku lihat di film-film. Orang yang kamu kejar tidak akan menerima
segala alasanmu dan akhirnya dia akan memintamu memutuskan hubungan.” Jawab
Sheril polos.
“Kalau
begitu, aku sarankan kamu untuk tidak banyak menonton film seperti itu lagi
agar kamu bisa berfikir rasional!” ledek Alan sambil mengacak rambut Sheril
gemas. Dan dia tersenyum.
“Hey!
Jangan lakukan itu lagi!” jawabnya sambil menata kembali rambutnya. “Aku
serius. Kekasihmu itu mungkin sedang membutuhkan waktu sendiri. Ia pasti telah
berfikir yang tidak-tidak tadi.” Lanjut Sheril.
“Kamu
benar. Ayo, kita kembali ke kelas.” Hingga pulang sekolah, Maya juga tak nampak
di hadapan Alan seperti biasanya. Maya pulang lebih dahulu dan membiarkan Alan
menunggunya di area parkir.
♡♡♡♡♡
Pendidikan
jasmani, pelajaran pertama kelas Maya dihari Rabu yang cerah itu. “Materi kita
hari ini lari 200 meter.” Kata pak Bono, setelah semua murid selesai melakukan
pemanasan. Kemudian ia menjelaskan cara penilaian yang dirasa menantang bagi
anak-anak itu. Yaitu mereka akan mendapat nilai 90 bila waktu mereka kurang
dari 30 detik. Semua menerima tantangan itu.
Tiba
giliran Maya dan tiga teman lainnya untuk penilaian. “Bersedia,” Pak Bono
memberi aba-aba, “Siap. Ya!” lanjutnya sambil menekan tombol pada stopwatch-nya.
Maya berlari secepat mungkin. Dan saat ia hampir menyelesaikan larinya, Alan
terdengar menyemangatinya dari pinggir lapangan. “Ayo Maya! Semangat!”
teriaknya, mengagetkan Maya. Sontak Maya terkejut dan langsung menoleh ke arah
datangnya suara. Ia jadi tidak memperhatikan langkahnya, hingga... BRUUKK!!
Maya
tersandung kakinya sendiri. Ia jatuh terselungkup di atas lapangan yang dirasa
tidak terlalu mulus itu. Beberapa siswi telihat menghampirinya. Berharap bisa
melihat keadaan Maya dan menolongnya. Terlihat beberapa siswi membantunya
berdiri. Kemudian ia berjalan keluar area lari itu agar tidak mengganggu
penilaian yang lain. Maya masih terduduk membersihkan baju dan tangannya yang
kotor. “Aaw!” Maya merintih menahan rasa perih pada lengannya. Beberapa orang
masih terlihat mengerumuninya. Saat itu pula sosok Alan muncul dari balik
keramaian itu. Ia jongkok, memandang Maya dengan rasa bersalah. Dilihatnya luka
gores pada lengan kekasihnya. Sedangkan Maya hanya bisa memandang Alan. Dalam
hatinya masih kesal mengingat apa yang dilakukan Alan pada perempuan lain
dibelakangnya, setidaknya itu hanya dugaan Maya.
“Perih
ya? Ayo, aku bawa ke UKS.” Kini nada suara Alan benar-benar berubah dari
sebelumnya. Suaranya sangat lembut dan penuh kekhawatiran.
“Tidak
perlu. Aku baik-baik saja. Dan aku bisa membersihkannya sendiri.” Jawab Maya.
“Tidak
bisa. Ini harus segera diobati, agar tidak terjadi infeksi.” Alan terdengar
memaksa. Dia kemudian memina izin pada Pak Bono untuk membawa Maya ke UKS. Ia
diizinkan. “Tunggu!” kata Pak Bono ketika Alan mencoba membujuk Maya kembali.
“Kamu kelas berapa?” lanjutnya.
“Kelas
XII IPA 7, Pak.” Jawab Alan ragu. Ia sadar sedang dicurigai membolos pelajaran
oleh Pak Bono.
“Pelajaran
apa sekarang?” tanya Pak Bono dengan nada suara menegas.
“Pelajaran
Seni Budaya, Pak.”
“Kenapa
kamu tidak berada di kelas?”
“Guru
yang harusnya mengajar sakit, Pak, dan kami hanya disuruh menyelesaikan tugas
minggu kemarin bagi yang belum selesai, sedangkan saya sudah menyelesaikannya.
Jadi saya ke sini.”
“Yasudah,
kamu boleh membawa Maya ke UKS.”
Alan
pun kembali membujuk Maya yang masih duduk. “Ayolah, May. Aku takut luka kamu
infeksi.” Kata Alan. “Dan, aku juga ingin berbicara dengan kamu.” Lanjutnya.
Maya
langsung melirik ke arah teman-temannya. Ia yakin teman-temannya akan
mengira-ngira apa yang terjadi pada Maya dan Alan, kemudian mewawancarainya
begitu kembali ke kelas. Tentu Maya tidak ingin bertengkar dengan Alan
dihadapan teman-temannya. Jadi ia menuruti keinginan Alan untuk pergi ke UKS.
Alan langsung membantunya bangun dan menuntunnya berjalan. Maya tampak masih
pincang dan kakinya sedikit gemetar karena terkejut atas insiden itu.
Tapi,
setelah mereka agak jauh dari lapangan, Maya tiba-tiba menyingkirkan tangan
Alan dari pinggangnya dengan kasar. “Aku bisa berjalan sendiri.” Katanya. Tapi
suaranya sedikit gemetar menahan rasa kesal pada Alan. Alan diam. Dan menerima
perlakuan kekasihnya itu. Walau sebenarnya, ia ingin sekali memarahi Maya. Kini
Alan berjalan tepat satu langkah dibelakang Maya. Memperhatikan punggung
kekasihnya yang berjalan lambat sambil sesekali bertumpu pada tembok, dalam
hatinya ia menyusun kata-kata yang akan meyakinkan Maya bahwa perselingkuhan
itu tidak benar.
Setelah
sampai di UKS, Maya langsung duduk di atas ranjang putih itu, sedangkan Alan
mengambilkannya segelas air mineral. “Ini, minum dulu.” Katanya. Maya mengambil
gelas itu dari Alan dan meminum sedikit air dari gelas itu, kemudian
meletakannya diatas meja di dekatnya. “Ayo, aku akn membersihkan lukamu.” Kata
Alan sambil mengulurkan tangannya, berharap tangan Maya menyambutnya untuk
membantu dia turun dari ranjang. Tapi Maya sama sekali tidak mengindahkan
harapan Alan. Ia turun sendiri dengan kasur dan tembok sebagai tumpuannya, dan
berjalan ke arah washtuffle, melewati Alan begitu saja tanpa memandangnya. Tapi
Alan tak langsung putus asa. Diikutinya Maya sampai di washtuffle. Ia tahu luka
itu akan perih bila terkena air.
“Aw!”
rintih Maya begitu air mengalir melewati lukanya.
“Pelan-pelan.
Sini, aku saja yang membersihkannya.”
“Tidak
perlu, kamu tidak tahu rasa sakit yang aku rasakan.” Jawab Maya sedikkit
menyindir. “Ck,” keluh Alan. Kini ia benar-benar kesal atas perlakuan Maya
terhadapnya. Diraihnya tangan Maya dengan tangan kanan, sedang tangan kirinya menadah air. Dialirinya air itu ke
luka Maya dengan lembut. Wajah keduanya benar-benar dalam ekspresi yang tidak
baik saat itu.
Setelah
merasa cukup, Alan meminta Maya untuk kembali duduk diatas ranjang. Ia sendiri
mengambil kotak P3K. Ditetesinya kapas dengan obat merah. “Yang kemarin itu,”
katanya tiba-tiba, “Aku dan Sheril hanya teman.” Lanjutnya.
“Teman
tapi mesra?” balas Maya sinis.
“Bukan.
Hanya teman biasa.” Jawab Alan, mencoba sabar. Kemudian Alan mengusap luka Maya
dengan kapas itu dengan sangat hati-hati.
Maya
terdiam. “Yakin?” katanya kemudian. Dipandangnya mata Alan penuh harap.
Alan
balik menatapnya yakin. “Tidak ada niat sedikit pun untuk menghianati kamu.”
Jawabnya. Maya kembali terdiam. Terpesona akan kata-kata Alan.
“Maaf,”
Kata Maya. “Karena sudah jadi menyebalkan. Kamu benar, aku memang terlalu manja
belakangan ini. Dan itu yang ingin aku bicarakan denganmu sejak kemarin. Tapi
aku terlanjur ngeliat kamu sama dia...”
“Kamu
cemburu. Aku mengerti. Dan aku suka kamu cemburu, karena artinya kamu tidak mau
kehilangan aku. Iya, kan?” goda Alan dengan senyum nakalnya, sambil menutup
luka itu dengan sedikit plester. Alan terlihat sangat terampil dengan peralatan
itu.
“Siapa
yang kamu sebut cemburu? Aku tidak cemburu.” Balas Maya. Kini wajahnya memerah
karena malu dan mengakui dalm hati bahwa apa yang dikatakan Alan adalah benar.
Alan hanya tersenyum mendengan jawaban kekasihnya itu.
Sejenak,
Maya memperhatikan Alan begitu berhati-hati terhadap lukanya. Ah! Beginilah cara dia memanjakanku. Dengan
selalu memperhatikanku, dan ada di dekatku ketika aku butuh. Kenapa aku meminta
lebih? Dan kenapa pula aku tidak menyadarinya? batin Maya.
Tidak
lama kemudian, Alan selesai dengan pekerjaannya. Dan merasa puas atas pengobatan
yang rapi itu. “Hey, Ayam! Kenapa kamu memperhatikan aku seperti itu?” Alan
kembali menggoda Maya saat ia menyadari sedang diperhatikan kekasihnya itu.
“Pasti kamu sedang berbicara pada dirimu sendiri bahwa apa yang aku ucapkan
benar, kan?” lanjutnya.
“Hey!
Berhenti memanggilku ayam! Namaku Maya, tahu! Memangnya kamu mau bertunangan
dengan ayam, hah?” jawab Maya sedikit membentak. Sejenak ia memandang Alan
sinis, kemudian mengalihkan pandangannya. Dan senyum nakal pun hilang seketika
dari wajah Alan.
“Dan
kenapa uacapanmu selalu benar?” kata Maya pelan. Alan kembali tersenyum. Bukan
senyum nakal, tapi senyum bahagia. Dia yang sedang berdiri tepat didepan Maya,
langsung memeluk kekasihnya itu. Membiarkan Maya membenamkan wajahnya pada
perut Alan yang hangat.
Maya
balas memeluknya. Ia bisa merasakan detak jantung Alan, yang lebih terdengar
seperti lagu menenangkan baginya. Dan membiarkan jantungnya berdebar, seperti
biasa, ketika Alan berhasil meluluhkan hatinya.
0 comments:
Posting Komentar