Saat ini gue akan cerita tentang
sepenggal kisah hidup remaja gue ketika gue masih teramat sangat bodoh tentang
perasaan gue sendiri.
Tentang si dia yang selalu gue buat
sedih dan kini malahan gue tinggal pergi. Dia Asti, perempuan teristimewa buat
gue yang sayangnya terikat sebuah persahabatan yang panjang yang tidak bisa gue
pungkiri karna gue takut ada yang tersakiti dari ikatan ini yang sudah gue
jalani dengan sangat erat, pasti akan terlepas jika gue berharap lebih sama
dia.
Mungkin memang jika pertama melihat
kita berdua dekat kalian semua berfikir kita seorang pasangan kekasih. Gue juga
merasa seperti itu, perhatian yang hmmm, normal-lah yang dia selalu berikan
membuat gue susah untuk membaca seperti apa gerangan perasaan dia sama gue?
Dan oke, kita balik berfikir dari
sudut pandang yang kita mau. Seandainya Asti benar mempunyai perasaan yang sama
seperti yang gue harapin dan kita menjalani ikatan yang lebih dari ikatan
sahabat yaitu ikatan hati, apa jadinya setelah semuanya berakhir? Ikatan hati
dan ikatan persahabatan beda coy..
Ikatan hati itu mempunyai pengecualian
terumit dari yang kalian semua bayangin. Dan gue tidak akan pernah membiarkan
semua itu terjadi. Kalau kalian semua bilang gue itu penakut, ya! Gue memang
penakut. Gue takut bukan karna sebuah hal yang pengecut. Gue Cuma ngga mau
melihat perempuan yang gue suka sakit sendiri karna perasaan gue yang menuntut
lebih! Itu aja ngga lebih, cukup logika kan?
Tetapi sebuah ungkapan yang membuat
gue berfikir secara ulang, dan memutar balikan semua kenyataan yang ada untuk
membuat semuanya menjadi masuk akal. Gue menyerah dan menemukan jalan buntu
untuk segalanya.
Hal itu terjadi ketika Asti memberikan
perhatian yang benar-benar over dosis ke-gue. Bukan hal yang negative tapi hal
yang positif karna setelah itu Asti mengungkapkan perasaan yang sesungguhnya
kepada gue. Gue mulai berantakan. Setelah dia bicara, seharusnya bukan dia yang
menyatakan perasaannya duluan! Tetapi seharusnya gue!!
Dan pada saat itu gue mengutuki diri
sendiri krna terlalu pengecut dan benar-benar seorang laki-laki yang pecundang.
Perasaan berkecamuk dan seluruh emosi gue muncul membuat perang dihati gue
menutup otak gue untuk berfikir lebih jernih. Akibatnya, gue hanya bias diam dengan
fikiran gue sendiri. Fikiran yang menuntut gue memilih jalan jedepan yang tidak
membuat Asti sakit dimasa nanti.
“sandy…?” tanyanya menuntu jawaban.
Gue masih terdiam, tempat favorit kita berdua yaitu dibalkon belakang rumah gue
rasanya tidak pernah sedingin ini. Semilir angin tidak membantu gue untuk
membuka mulut, hanya menambah beku lidah gue.
“san…?hmm, oke. Haha, mungkin aku
jujur bukan disaat yang tepat ya? Sori, kalau kejujuran aku membuat kamu ngga
nyaman. Lupain aja.. mungkin selamanya kita cuma sebatas teman ngga, aku yang
bodoh minta yang lebih dari kamu.. aku minta maaf…”
Gue melongo, didalam hati. Gue memaki
diri sendiri. ‘bukan.. bukan seperti itu Asti. Aku terlalu menyayangimu.’
Rengek gue dalam hati menuntut Asti mendengar segala penjelasan dari hati gue,
yang gue tau hanya diri gue sendiri yang bias mendengar dan merasakan. Toh,
buktinya gue masih membisu sampai-sampai Asti lelah menunggu penjelasan dari
gue yang padahal udah gue jelasin lewat
hati sampai hati gue berbusa, tetapi, mulut gue tetap terkatup rapat dan dia
menghela nafas untuk mengakhiri segalanya.
“uh, yaudah. Aku balik duluan ya,
bye..” katanya sambil menepuk bahu gue pelan. Desakan hati ini benar-benar
harus gue perjuangkan dan secara reflex gue berucap “Asti.. kamu ngga apa-apa
kan?” dan itu refleks-an kata yang benar-benar bodoh. Harusnya kan gue bicara
yang sebenarnya misal: Asti, aku juga menyukaimu. Dan gue seenggaknya bakal
hidup bahagia walau ngga selamanya. Tapi? Arghhh.. akibatnya Asti hanya bias
menjawab dengan kebohongan pahit yang terlihat jelas ketika dia menepis air
mata diujung sudut matanya.
“yeah, it’s okey.”
Asti,
maaf.. aku memang bodoh.
Seharusnya
gue senangkan? Orang yang geu suke juga memnyukai gue? Tapi kenapa akhirnya
rasanya seperti ini? Setiap hari dan setiap kali gue melihat Asti, gue merasa
bersalah dan selalu memaki diri senddiri. Entah desakan apa yang ada dihati dan
difikirn gue, ini semua ngga masuk akal!! Ini semua gila, gue itu emang
tololkarna gue selalu menghindar bila bertemu dengan dia.
Sudah
lewat beberapa minggu, sikap gue semakin dingin. Entah mengapa? Mungkin
ini memang rasa bersalah yang sangat bodoh membuat gue merasa asing jika
bertemu dengannya.
Sudah beberapa puluh kali dia
memalsukan rasa sedihnya dan bersikap biasa seperti tak terjadi apapun.
‘tapiAsti, kamu tidak pandai untuk bersandiwara. Hal yang kau lakukan kini
membuat aku semakin membenci diriku’ dan setelah itu gue mulai tau arti dari
segala desakan gila itu bahwa gue memang tidak ditakdirkan untuk bersamanya.. ya!bersama
Asti.
Ketika pulang sekolah Asti mengajak
gue untuk pulang bersama, bukan hal yang aneh memang. Kita sudah melakukan hal
ini selama bertahun-tahun. Tetapi gue hanya melengos pergi tanpa menatapnya.
Gue merasa benar, karna sebentar lagi juga Asti bakal membenci gue.
Berulang-ulang kali dia melakukan hal yang sama dan gue lakukan dengan hal yang
sama. Jangan bilang gue tegar menghadapi
hal itu, bahkan gue lebih terpuruk dari yang Asti rasakan.
Dibalkon gue merenung dengan selembar
kertas ditangan gue.
1 hari..
Tinggal
1 hari dan gue menghabiskan waktu gue hanya disini, menyendiri seperti orang
yang frustasi. Dan itu memang benar. Gue frustasi memegang selembar tiket
sialan ini. Tiba-tiba saja Asti sudah dibelakang gue dengan berlinang air mata.
“sandy!apa-apaan sih kamu? Sampai
kaapan kamu kaya begini? Menghindari aku, ngga mau dekat-dekat aku! Apa aku
sebegitu menyebalkannya buat kamu?hah?..” katanya sambil balik badan ketika
pandangan kami bertemu, beginilah Asti tidak mau menunjukkan keseddihannya
dihadapan gue padahal gue tau dia menangis. Rasanya gue mau loncat saja dari
atas balkon ini..ck
“kalau kamu benci sama aku bilang
san…” ucapnya lagi disela-sela tangisannya, kini suara hati gue mulai menuntun
gueuntuk berjalan satu langkah dan ucapannya yang kedua menuntun gue kembali
berjalan
“jangan buat aku merasa bersalah…”
Kini
gue udah ada tepat dibelakangnya dengan menahan air mata keluar denga susah
payah luar biasa.
“yaudah kalau ini semua mau kamu, aku
kesini hanya mau kepastian. Kalau kamu bilang kamu nggak mau aku ada dihidup
kamu aku akan pergi tapi…” cukup. Gue engga sanggup lagi mendengar suara
tangisnya disela-sela dia bicara. Gue memeluknya dari belakang, melingkarkan
tangan gue dileher dan bahunya.
“cukup, udah cukup! Kamu salah paham
Asti, kamu salah paham…” kata gue, gue bias merasakan rinaian airmatanya yang
kini mulai jatuh dipergelangan tangan gue.
“Asti.. aku harus pindah. Aku akan
pindah kebelanda dan menetap disana..”
Asti sekejap melepaskan rengkuhanku
dan balik memandang gue dengan tatapantajam dan ledakan tangis yang memuncak.
Aku berusaha menenangkannya denga memegang kedua bahunya dikedua tangan gue.
“Asti, Asti tenang dulu, besok aku
take off jam 4 dan aku mohon kamu datang. Aku juga suka kamu As..” kata gue dan
mencoba untuk tidak membentaknya karna dia terus menerus menangis tetapi
kesabaran hati gue ternyata ada batasnya juga, gue membentak Asti untuk yang
pertama kalinya.
“Asti… diam!!!” tetapi Asti malahan
menampar gue dengan kerasnya, PLAK, bukannya perih dipipi yang gue rasakan,
tetapi rasa sakit yang mendalam dihati dan ketika dia pergi berlari sambil
menangis meninggalkan gue sendiri disini dan kemudian hujan rintik yang
menemani gue sendiri..
Gue kira keesokannya Asti benar datang
untuk melepas gue, tetapi nyatanya tidak sampai pesawat lepas landas-pun dia
ngga datang.
Entah
bagaimana keadaannya sekarang. Selama bertahun-tahun tidak bertemu, dan gue
hanya bisa berdoa semoga dia selalu bahagia dan ingatan gue tentang Asti
dibuyarkan oleh dosen gue yang berteriak menuntut perhatian dalam bahasa
belanda “opgelet, introducer uw nieuwe
vriend is Puspa Asti van indonesie..”(tolong perhatiannya, kenalkan teman
baru kalian yaitu Puspa Asti dari Indonesia)
Gue
pun terbelalak, itu… Asti?
0 comments:
Posting Komentar