Namaku
Hening. Entah apa
yang dipikirkan orangtuaku saat memberikan nama itu padaku.Namun, jangan kau
bayangkan bila hidupku ini hening seperti namaku. Hidupku penuh dengan warna,
karena ada cinta yang selalu menyertaiku. Cinta dari orang-orang disekitarku,
dari orangtuaku, dari keluargaku, dan juga dari suamiku. Danar.
“Apa
yang kau rasakan dari hembusan angin malam ini?” Tanyanya pada suatu malam di
bawah taburan bintang-bintang.
“Aku
merasakan dingin yang menusuk. Namun, aku merasakan kehangatan yang menyusup ke
sela pori-poriku karena keberadaan mu di sini.” Danar hanya tersenyum mendengar
jawabanku dan mengusap kepalaku yang berada dalam pangkuannya.
Sudah
hampir satu tahun aku menikah dengannya. Entah bisa berapa lama lagi aku bisa terus berada
disampingnya. Vonis yang diberikan dokter kepadaku sangat membuat aku terpukul.
Aku merahasiakan semua ini dari orang-orang yang amat aku cintai.
“Apa
yang sedang kau pikirkan?” Tanya Danar menyadarkan lamunanku.
“Tidak
ada. Hey, aku
punya satu pertanyaan untukmu.”
“Apa
itu?”
“Bagaimana
perasaanmu bila kau kehilangan sesuatu yang sangat kau cintai?”
“Pasti
aku akan merasa sangat tidak berdaya.”
“Mengapa
begitu?” Tanyaku yang merasa heran.
“Ya,
karena sesuatu yang aku cintai merupakan bagian dari separuh jiwaku.”
“Apa
aku termasuk bagian dari separuh jiwamu?”
“Tentu.Karena
kau adalah orang yang sangat aku cintai.” Jawabnya sambil terus mengusap
kepalaku.
Jawabannya
membuatku semakin terpukul atas keadaanku saat ini.Bagaimana bila nanti aku benar-benar pergi meninggalkannya? Apa suamiku
ini akan menjadi sangat tidak berdaya bila aku pergi? Bertubi-tubi
pertanyaan aku lontarkan untuk diriku sendiri. Dalam hati aku menangis. Dan malam itu aku lewatkan unutk terus berada dalam
pangkuannya di bawah taburan bintang-bintang.
OOO
“Lakukan
apa saja agar saya bisa sembuh, dok.” Pintaku pada sang dokter yang tampaknya
sudah menyerah atas penyakitku.
“Tidak
banyak yang dapat kami lakukan. Tapi, mungkin ada satu cara yang masih bisa
kita coba.”
“Apa
itu, dok?”
Secepat kilat aku langsung menanyakannya.
“Kemotherapy.”
Jawab dokter itu dengan ragu-ragu.
“Apapun
akan saya lakukan demi kesembuhan saya,dok.” Aku menyetujui perkataan dokter
itu.
Kemotherapy. Mungkin ini satu-satunya
cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi kanker otakku, mengingat aku juga
menderita hemophilia. Ya, kelainan
yang membuat darah sukar membeku itu tidak memungkinkan aku melakukan operasi
untuk mengatasi kanker otakku, karena itu terlalu beresiko. Jadi aku putuskan
untuk melakukan kemotherapy tanpa
sepengetahuan keluargaku, termasuk suamiku.
Aku
merasa, kini warna dalam hidupku kian memudar. Namun, aku terus mempertahankan
agar tetap ada warna yang masih bisa tersisa dalam hidupku, walaupun hanya
sebesar biji semangka.
OOO
Sudah
ke sekian kalinya aku melakukan kemotherapy
ini tanpa sepengetahuan siapapun. Tubuhku semakin hari semakin kurus. Rambut
indah tebalku juga semakin hari semakin menipis. Kini aku bagai mayat hidup
berjalan. Suamiku, Danar, menyadari akan perubahan yang terjadi padaku.
“Apa
yang sudah terjadi padamu, sayang?”
“Tidak
ada apa-apa.”
“Jangan
berbohong padaku. Wajahmu sangat pucat. Ayo kita periksa ke dokter.”
“Tidak
usah.Aku baik-baik saja.”
Tak
kuasa aku membendung semua kebohongan ini di depannya, maka aku pun
meninggalkannya dengan alasan ingin ke kamar mandi. Aku menangis tanpa suara,
berharap tidak ada yang mendengar tangisku yang pilu itu. Aku melihat wajahku
sendiri di cermin, wajahku seperti tengkorak tak berdaging. Kurus kering.
Entah
bumi ini yang berguncang atau memang kepalaku ini yang terasa amat pusing. Tanganku
mencoba menggapai apa saja untuk menopangku berdiri. Namun, apalah daya aku tak
sanggup. Aku terjatuh. Semua yang tadi coba aku raih, berjatuhan menimpaku. Tiba-tiba
Danar datang, berlari ke arahku.
“HENIIIIIIING!!!”
Secepat kilat ia menghampiriku. “Apa yang terjadi? Ya ampun, hidungmu
mengeluarkan darah.” Ucapnya dengan kepanikan yang luar biasa. “Aku tidak
apa-apa.” Kataku lemah. “Apanya yang tidak apa-apa?! Kamu kacau seperti ini!
Ayolah kita periksa ke rumah sakit.” Ucapnya semakin panik. Aku mengangguk
pelan, tidak dapat menolak ajakannya. Diangkatnya tubuh lemasku ini.Lalu, aku
tidak tahu lagi apa yang terjadi setelah itu.
OOO
Begitu
aku tersadar, aku mendapati Danar berada di sampingku, duduk dengan mata yang
sembab.Ia menyadari akan kesadaranku.
“Bagaimana
sekarang?” Tanyanya sambil mendekap tanganku erat.
“Jauh
lebih baik dari sebelumnya.” Jawabku dengan senyum sebisa mungkin.
“Syukurlah.Mengapa
kau tidak memberi tahu aku tentang semua ini?”
“Aku
takut mengganggu pikiranmu.”
Danar
hanya menunduk mendengar jawabanku. Dan akhirnya ia berkata “Kita bisa melewati
cobaan ini. Kau harus bertahan demi orang-orang yang kau cintai, demi aku. Aku yakin kau kuat. Percayalah, kau
tidak sendiri, ada aku yang selalu ada di sisimu. Bersama pasti kita bisa. Berjuanglah,
sayang. Mukjizat pasti datang untukmu.” Ucapnya meyakinkanku.
Bersamanya
aku menangis. Aku merasakan cinta yang begitu besar darinya. Dan darinya lah
aku mendapatkan kekuatan, kekuatan cinta.
OOO
Sudah
berkali-kali aku menjalani kemotherapy
ini bersama Danar, hingga akhirnya semua tahap itu terselesaikan.
“Perkembangan
yang sangat baik.” Kata sang dokter sambil memegang hasil CT Scan di tangannya.
“Bagaimana
hasilnya, dok?”
“Dari
hasil yang kami peroleh, kami sudah tidak menemukan lagi ada kanker yang
bersarang di otak istrimu.” Jawab sang dokter dengan senyum yang melebar.
Danar
langsung memelukku dengan erat. Aku membalas pelukannya. Ada kata-kata yang
terucap darinya “Kita berhasil, sayang. Mukjizat itu benar-benar datang
padamu.” Semakin erat pelukannya padaku. “Ya, aku yakin mukjizat itu pasti
datang untukku. Ini semua karena cinta yang kau beri padaku. Cinta memberikan
aku kekuatan.” Dokter hanya bisa tersenyum melihat tingkah kami berdua.
OOO
Hari-hari
setelahnya aku lewati dengan bahagia bersama Danar, dan juga bersama Danar
Junior dan Hening Junior, anak kembar kami yang baru saja lahir. Aku susun
kembali warna-warna hidupku yang dulu sempat memudar. Dan kini, aku percaya
bahwa kekuatan cinta dapat merubah segalanya.
0 comments:
Posting Komentar