Kamis, 06 Maret 2014

“The Power of Love”


            Namaku Hening. Entah apa yang dipikirkan orangtuaku saat memberikan nama itu padaku.Namun, jangan kau bayangkan bila hidupku ini hening seperti namaku. Hidupku penuh dengan warna, karena ada cinta yang selalu menyertaiku. Cinta dari orang-orang disekitarku, dari orangtuaku, dari keluargaku, dan juga dari suamiku. Danar.
            “Apa yang kau rasakan dari hembusan angin malam ini?” Tanyanya pada suatu malam di bawah taburan bintang-bintang.
“Aku merasakan dingin yang menusuk. Namun, aku merasakan kehangatan yang menyusup ke sela pori-poriku karena keberadaan mu di sini.” Danar hanya tersenyum mendengar jawabanku dan mengusap kepalaku yang berada dalam pangkuannya.
            Sudah hampir satu tahun aku menikah dengannya. Entah bisa berapa lama lagi aku bisa terus berada disampingnya. Vonis yang diberikan dokter kepadaku sangat membuat aku terpukul. Aku merahasiakan semua ini dari orang-orang yang amat aku cintai.
            “Apa yang sedang kau pikirkan?” Tanya Danar menyadarkan lamunanku.
            “Tidak ada. Hey, aku punya satu pertanyaan untukmu.”
            “Apa itu?”
            “Bagaimana perasaanmu bila kau kehilangan sesuatu yang sangat kau cintai?”
            “Pasti aku akan merasa sangat tidak berdaya.”
            “Mengapa begitu?” Tanyaku yang merasa heran.
            “Ya, karena sesuatu yang aku cintai merupakan bagian dari separuh jiwaku.”
            “Apa aku termasuk bagian dari separuh jiwamu?”
            “Tentu.Karena kau adalah orang yang sangat aku cintai.” Jawabnya sambil terus mengusap kepalaku.
            Jawabannya membuatku semakin terpukul atas keadaanku saat ini.Bagaimana bila nanti aku benar-benar pergi meninggalkannya? Apa suamiku ini akan menjadi sangat tidak berdaya bila aku pergi? Bertubi-tubi pertanyaan aku lontarkan untuk diriku sendiri. Dalam hati aku menangis. Dan malam itu aku lewatkan unutk terus berada dalam pangkuannya di bawah taburan bintang-bintang.
OOO
            “Lakukan apa saja agar saya bisa sembuh, dok.” Pintaku pada sang dokter yang tampaknya sudah menyerah atas penyakitku.
            “Tidak banyak yang dapat kami lakukan. Tapi, mungkin ada satu cara yang masih bisa kita coba.”
            “Apa itu, dok?” Secepat kilat aku langsung menanyakannya.
            “Kemotherapy.” Jawab dokter itu dengan ragu-ragu.
            “Apapun akan saya lakukan demi kesembuhan saya,dok.” Aku menyetujui perkataan dokter itu.
            Kemotherapy. Mungkin ini satu-satunya cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi kanker otakku, mengingat aku juga menderita hemophilia. Ya, kelainan yang membuat darah sukar membeku itu tidak memungkinkan aku melakukan operasi untuk mengatasi kanker otakku, karena itu terlalu beresiko. Jadi aku putuskan untuk melakukan kemotherapy tanpa sepengetahuan keluargaku, termasuk suamiku.
            Aku merasa, kini warna dalam hidupku kian memudar. Namun, aku terus mempertahankan agar tetap ada warna yang masih bisa tersisa dalam hidupku, walaupun hanya sebesar biji semangka.
OOO
            Sudah ke sekian kalinya aku melakukan kemotherapy ini tanpa sepengetahuan siapapun. Tubuhku semakin hari semakin kurus. Rambut indah tebalku juga semakin hari semakin menipis. Kini aku bagai mayat hidup berjalan. Suamiku, Danar, menyadari akan perubahan yang terjadi padaku.
            “Apa yang sudah terjadi padamu, sayang?”
            “Tidak ada apa-apa.”
            “Jangan berbohong padaku. Wajahmu sangat pucat. Ayo kita periksa ke dokter.”
            “Tidak usah.Aku baik-baik saja.”
            Tak kuasa aku membendung semua kebohongan ini di depannya, maka aku pun meninggalkannya dengan alasan ingin ke kamar mandi. Aku menangis tanpa suara, berharap tidak ada yang mendengar tangisku yang pilu itu. Aku melihat wajahku sendiri di cermin, wajahku seperti tengkorak tak berdaging. Kurus kering.
            Entah bumi ini yang berguncang atau memang kepalaku ini yang terasa amat pusing. Tanganku mencoba menggapai apa saja untuk menopangku berdiri. Namun, apalah daya aku tak sanggup. Aku terjatuh. Semua yang tadi coba aku raih, berjatuhan menimpaku. Tiba-tiba Danar datang, berlari ke arahku.
            “HENIIIIIIING!!!” Secepat kilat ia menghampiriku. “Apa yang terjadi? Ya ampun, hidungmu mengeluarkan darah.” Ucapnya dengan kepanikan yang luar biasa. “Aku tidak apa-apa.” Kataku lemah. “Apanya yang tidak apa-apa?! Kamu kacau seperti ini! Ayolah kita periksa ke rumah sakit.” Ucapnya semakin panik. Aku mengangguk pelan, tidak dapat menolak ajakannya. Diangkatnya tubuh lemasku ini.Lalu, aku tidak tahu lagi apa yang terjadi setelah itu.
OOO
            Begitu aku tersadar, aku mendapati Danar berada di sampingku, duduk dengan mata yang sembab.Ia menyadari akan kesadaranku.
            “Bagaimana sekarang?” Tanyanya sambil mendekap tanganku erat.
            “Jauh lebih baik dari sebelumnya.” Jawabku dengan senyum sebisa mungkin.
            “Syukurlah.Mengapa kau tidak memberi tahu aku tentang semua ini?”
            “Aku takut mengganggu pikiranmu.”
            Danar hanya menunduk mendengar jawabanku. Dan akhirnya ia berkata “Kita bisa melewati cobaan ini. Kau harus bertahan demi orang-orang yang kau cintai, demi aku. Aku yakin kau kuat. Percayalah, kau tidak sendiri, ada aku yang selalu ada di sisimu. Bersama pasti kita bisa. Berjuanglah, sayang. Mukjizat pasti datang untukmu.” Ucapnya meyakinkanku.
            Bersamanya aku menangis. Aku merasakan cinta yang begitu besar darinya. Dan darinya lah aku mendapatkan kekuatan, kekuatan cinta.
OOO
            Sudah berkali-kali aku menjalani kemotherapy ini bersama Danar, hingga akhirnya semua tahap itu terselesaikan.
            “Perkembangan yang sangat baik.” Kata sang dokter sambil memegang hasil CT Scan di tangannya.
            “Bagaimana hasilnya, dok?”
            “Dari hasil yang kami peroleh, kami sudah tidak menemukan lagi ada kanker yang bersarang di otak istrimu.” Jawab sang dokter dengan senyum yang melebar.
            Danar langsung memelukku dengan erat. Aku membalas pelukannya. Ada kata-kata yang terucap darinya “Kita berhasil, sayang. Mukjizat itu benar-benar datang padamu.” Semakin erat pelukannya padaku. “Ya, aku yakin mukjizat itu pasti datang untukku. Ini semua karena cinta yang kau beri padaku. Cinta memberikan aku kekuatan.” Dokter hanya bisa tersenyum melihat tingkah kami berdua.
OOO

            Hari-hari setelahnya aku lewati dengan bahagia bersama Danar, dan juga bersama Danar Junior dan Hening Junior, anak kembar kami yang baru saja lahir. Aku susun kembali warna-warna hidupku yang dulu sempat memudar. Dan kini, aku percaya bahwa kekuatan cinta dapat merubah segalanya.

0 comments:

Posting Komentar

Hubungi kami :

Twitter : @APAksara

Email : apaksara3@gmail.com

HP : 085773226995

Instagram: kapas3.aksara

Twitter

Translator