Bagian ke-2 dari Festival Kutukan selesai! Semoga lebih kerasa horornya. Kritik, pesan, komentar, apa pun itu yang bersifat membangun sangat diperlukan. Jadi, jangan sungkan. Heheh.
Oh iya, karena yang bagian pertama sepertinya sudah tenggelam dan bagian kedua ini di postnya lama, mungkin kalian udah lupa ceritanya gimana. Klik ini untuk baca bagian 1, baca sekilas aja kalau lupa.
Nah, silahkan membaca. -Aries
-Bagian 2-
Festival tahunan SMA Purin adalah hal yang paling dinantikan oleh murid-muridnya. Setelah belajar tiap hari, waktu 2 minggu yang diberikan untuk mempersiapkan festival itu digunakan oleh mereka dengan sebaik-baiknya untuk menghilangkan kejenuhan belajar. Tapi yang ada malah kejenuhan mempersiapkan acara masing-masing. Walaupun begitu mereka tetap merasa senang. Begitulah murid SMA. Apa yang dipikir oleh orang dewasa tidak menyenangkan bisa saja dibuat sebagai hal yang tak terlupakan oleh mereka.
Namun malang nasib Sally. Kini teman-temannya malah tidak percaya dengannya. Kalau begitu bagaimana cara ia bersenang-senang? Bahkan Sally sendiri sudah tidak sempat memikirkan kesenangan itu lagi. Pikirannya sudah dipenuhi dengan kemungkinan yang dikatakan Bani. “mungkin semua ini adalah kutukan?” “sudah cukup dengan kutukan!” bentak Sally dalam hatinya setiap kali suara Bani terngiang-ngiang dipikirannya. Ia memutuskan untuk mengistirahatkan pikirannya sejenak.
Minggu penuh warna itu langsung menjadi kelabu setelah adanya kecelakaan yang menimpa kedua temannya. “ya, benar. Hanya kecelakaan. Aaargh!! Bisa gila aku gara-gara Bani!” selama di ruang kesehatan ia begitu gelisah. Niatnya untuk beristirahat sepertinya tak tersampaikan. Matanya tak bisa terpejam, ia sempat berpikir untuk minta obat penenang ke dokter sekolah, tapi pasti tidak akan diberikan. Lagipula ia harus segera kembali ke kelas untuk menjalankan tugasnya sebagai penanggung jawab rumah hantu kelasnya. Dokter sekolah mendengar Sally bergumam, “kenapa Bani tiba-tiba mengatakan hal seperti itu? Kurasa ia sudah terpengaruh oleh game yang sering ia mainkan itu. Ah kasihan Bani, aku tak yakin ia akan bertahan…” ia hendak menyuruhnya untuk tenang, tapi suaranya Sally sudah tak terdengar lagi. Sepertinya anak itu sudah tertidur.
***
Setelah itu semuanya sudah kembali normal. Anak yang terdidik di negara maju dan hebat ini tidak mungkin langsung percaya dengan takhayul dan semacamnya, apa lagi kutukan. Lagipula mereka masih membutuhkan bantuan Sally. Mereka bahkan merasa bodoh karena langsung mempercayai kata-kata Bani. Padahal dari dulu mereka tidak mengacuhkannya. Mereka menganggap Bani maniak game yang sebentar lagi akan mempermalukan orang tuanya–karena nilai-nilainya yang terus merosot kebawah. Bani juga sudah biasa diperlakukan seperti itu. Asal masih diizinkan menyimpan PSP di asrama, itu semua tak jadi masalah.
***
Hari-hari terus berlanjut. Bagi mereka yang sibuk mengerjakan ini dan itu, matahari seolah terbenam lebih cepat dari biasanya. Bahkan makan siang yang disediakan oleh juru masak seakan tak cukup untuk memuaskan perut para murid. Mereka masih lapar. Tapi mereka bersemangat, karena makanan yang memuaskan dan tak ada tandingannya itu akan menanti mereka nanti malam. Juru masak sudah berjanji begitu pada mereka. Usaha juru masak sangat bagus, guru-guru ada yang ikut membantu memasak sebagai balasan terima kasih karena telah membangkitkan semangat anak-anak.
Ternyata benar! Masakan yang dijanjikan luar biasa enaknya. Siswi perempuan tidak ada yang mengeluh akan kegendutan, mereka melahap habis semuanya. Kalau siswa laki-laki tak perlu ditanyakan lagi. Malam itu semuanya langsung tertidur pulas seperti habis diberikan obat tidur–padahal tentu saja tidak.
Tidak ada satu pun yang bangun malam itu, kecuali Bani dan Lock. Mereka sudah taruhan game. Membiarkan mereka dalam satu kamar yang sama sepertinya bukan hal yang tepat. Tapi karena saat makan malam tadi mereka juga makan dengan lahap, tak lama mereka tertidur juga. Perut yang kencang memang mudah memberatkan kelopak mata.
***
Malam itu begitu sunyi dan gelap. Hanya ada cahaya bulan menerangi bangunan baru asrama Purin yang sangat megah itu. Asrama laki-laki dan perempuan dipisahkan oleh sebuah lorong yang ditengah-tengahnya terdapat bangunan luas yang dibagi menjadi beberapa tempat untuk makan, bersantai dan belajar kelompok. Asrama itu berada ditengah-tengah lingkungan sekolah, jadi dekat dari mana-mana.
Bangunan asramanya kalau dilihat dari depan akan tampak jendela-jendela besar yang jaraknya berjauhan. Sedangkan dari samping kiri asrama laki-laki, kalian akan melihat semak-semak yang tumbuh dengan teratur dibagian bawahnya dan juga tanaman yang merambat di dinding. Kalau dibiarkan tanaman itu akan menutupi jalan masuknya cahaya dari luar. Sepertinya Pak Kumis belum memeriksanya, beliau kepala kebersihan disini. Orangnya sudah separuh baya, badannya gemuk dan berkumis–makanya dijuluki Pak Kumis. Beliau sangat memperhatikan kebersihan. Kalau ada yang ketahuan menyimpan banyak sampah di kamar, beliau tak akan segan-segan menghukum penghuninya berkali-kali lipat. Banyak yang tidak suka padanya karena hal itu, padahal beliau orang yang baik dan ramah. Tidak seperti Pak Owen yang bahkan garis mulutnya tertarik kebawah, galak sekali.
Kalau kalian memperhatikan dengan jeli dari jendela-jendela besar yang tampak dari depan, kalian akan melihat sesosok anak laki-laki sedang berjalan menuju lorong utama. Tubuh anak itu gemuk dan jalannya sempoyongan. Ternyata anak laki-laki itu Bani. Ia melapor pada Pak Owen yang masih terjaga itu, ia mau ke toilet.
Toilet tak terlalu jauh dari kamarnya, tapi kalau berjalan malam-malam di lorong asrama yang gelap dan bercabang itu tetap saja menyeramkan. Ia sudah mencoba membangunkan Lock dan Randy, namun keduanya tak ada yang mau bangun dari mimpi mereka yang indah. Sebenarnya Bani sangat takut, apa lagi saat ia mengingat film Hanako–hantu toilet yang terkenal di Jepang, yang ia tonton bersama teman sekamarnya beberapa bulan lalu. Kalau Bani bisa berpikir dengan tenang saat itu harusnya ia sadar kalau Hanako hanya muncul di toilet perempuan.
Pintu toilet ia buka dengan hati-hati. Takutnya ada sesuatu yang menunggunya, tapi tidak ada. Bani segera melaksanakan niatnya. “lega…” desahnya setelah selesai dan ternyata tidak ada keanehan yang mengganggunya. Ia segera mencuci tangannya dan hendak pergi.
Tiba-tiba ia merasa ada hembusan yang dingin di lehernya. Badannya seketika terasa lemas, Bani tidak bisa bergerak! Malam yang sudah terasa dingin saat itu semakin dingin. Bani tidak berani melihat kebelakang, karena ia merasa ada seseorang yang sedang memperhatikannya. Ia pun membulatkan keberaniannya untuk bergerak dan pergi dari situ. Tanpa Bani sadari di depannya ada cermin dan ia reflek melihat ke cermin itu. Ternyata tepat dibelakangnya ada sesosok anak laki-laki yang kepalanya sudah hancur. Darah bercucuran dari mana-mana namun tidak meninggalkan bekas di lantai. Mata sebelah kanannya sudah hancur dan keluar dari tempatnya. Wajahnya penuh goresan, bibirnya sangat pucat dan robek sedikit dibagian kirinya. Rambutnya acak-acakan dan baunya busuk seperti bau toilet–bahkan lebih parah, bagian sebelah kanannya banyak pitak dan meninggalkan luka seperti bekas dipukul menggunakan benda tumpul dengan keras berkali-kali. Sedangkan dibagian kirinya terbentuk lubang yang nyaris mengeluarkan isi kepalanya. Bani lantas berteriak dan terjatuh ke lantai.
***
“Sally! Bani berulah lagi!” teriak Pearl dari kejauhan. Sally yang saat itu sedang melapor kegiatan kelasnya ke panitia langsung mengakhiri laporannya. “maaf, sepertinya ada masalah di kelasku…” panitia itu sangat baik, ia tersenyum dan mengizinkan Sally untuk mengurus kelasnya terlebih dahulu. Sally menghampiri Pearl, “ada apa lagi?” “dia… dia tidak mau… ah maaf… biarkan aku… hah… mengatur sebentar… hah…” Pearl mengatur nafasnya yang terengah-engah. Dia memang tidak terbiasa lari-lari seperti tadi.
“begini,” kata Pearl yang baru saja selesai mengatur nafasnya. “Bani tidak mau membuatkan sound effect untuk misteri keempat?” tanya Sally yang tidak sabaran. Pearl hanya mengangguk. Sejak pagi tampang Bani sudah murung. Setiap melihat Sally matanya langsung menyipit dan mulutnya bergerak-gerak tak henti. Bani sedang menjelek-jelekan Sally. Menurutnya, ia kena kutukan karena Sally. “anak itu benar-benar deh. Aku yakin ia pasti sangat membenciku hanya karena mimpi buruknya itu!” Sally sudah tidak tahan dengan sikap Bani terhadapnya. “Eri ada di kelas?” “ada, dia sedang menenangkan Bani tapi yah, kurasa Eri tak akan mampu…” Pearl tertunduk, seolah-olah itu semua adalah salahnya. “um… Sally, kau percaya dengan ceritanya Bani?” tanya Pearl tiba-tiba, wajahnya ketakutan. “kau sendiri percaya? Aku sih tidak. Bukankah Lock sudah bilang kalau Bani sering bermimpi buruk? Aku yakin yang dia ceritakan tadi itu adalah salah satu mimpinya yang ia besar-besar kan.” Selama di lorong mereka terdiam. Pearl sebenarnya hanya ketakutan karena tadi Bani bilang kalau dibelakangnya ada hantu laki-laki yang ia ceritakan itu. Hantu itu mengikuti Bani dari toilet hingga kemanapun ia pergi.
Prang.
Keadaan bukannya semakin baik malah semakin buruk setelah Sally datang. Kebencian Bani terhadapnya semakin menjadi-jadi. Saat Sally masuk ke kelasnya, ia langsung melemparkan benda yang ada disekelilingnya. Hampir saja ia melempar laptopnya. “gara-gara kau aku jadi kena kutukan! Mati saja sana!” teriaknya. Eri dan Tio sudah menahan tangannya agar tidak melempar barang lagi. “sudah cukup Bani!” bentak Eri. Ia merasa kalau perkatannya Bani sudah keterlaluan. Pandangan Bani teralih ke Eri, saat ini ia sudah tidak peduli dengan bentakan Eri. “’Eri… kumohon tolong aku!! Mereka ada dimana-mana!!” rintih Bani. Eri yang tak mengerti apa maksudnya hanya menatap Tio yang ada disampingnya. “masa kalian tidak bisa melihatnya? Ayolah! Kalian pasti banyak melihat mereka di sekitar Sally karena memang dia sumbernya!! Lihat! Lihat! Mereka menatapku seram sekali! Ya Tuhan tolong aku!!”
Anne menghampiri Bani, ia sudah tidak tahan lagi melihat sikap Bani. “hey bangunlah! Kau ini terlalu banyak main game horor!” Bani malah semakin ketakutan. “jangan mendekat! Sana menjauh!! Eri tolong! Dia- AAAH!! TOLONG AKU!! SESEORANG!! LEPASKAN AKU!!” ia memberontak, mencoba untuk melepaskan diri dari Eri dan Tio. Sedangkan mereka tak sanggup lagi menahannya dan akhirnya melepaskannya.
Sikap Bani tak karuan, ia meronta-ronta, menangis, dan merintih. “dia gila ya…?” ceplos Anne. Semuanya berpikir seperti itu. Banyak pertanyaan di kepala Sally, salah satunya adalah ‘sebenarnya apa yang dilihat oleh Bani?’ selagi ia fokus dengan pertanyaan-pertanyaannya, ia tidak sadar kalau Bani tiba-tiba berlari menghampirinya sambil mengayunkan cutter. Semuanya reflek menjauh dan berteriak. Namun Sally masih tenggelam dalam lamunannya. Eri yang sadar kalau Sally saat itu sedang melamun langsung mencoba meraih Bani dan menahannya, tapi sebelum ia melakukannya Bani tersandung balok kayu yang dipersiapkan untuk menopang papan. Ia terjatuh dan cutter yang ia genggam langsung terlepas. Dan malang nasibnya, cutter tersebut jatuh dan menancap tulang hastanya. Bani berteriak kesakitan dan teman-temannya membisu. Disaat itu lah Sally baru tersadar dari lamunannya. Ia langsung menyuruh Ginta untuk memanggilkan guru.
***
Kejadian tadi siang memang sangat mengejutkan. Bani terpaksa dibawa ke rumah sakit dan Sally harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi di kelasnya. Sally baru saja keluar dari ruang guru, ia mendapatkan ceramah gratis dari Pak Sullivan. Ia memutuskan untuk kembali ke kelas walaupun ia yakin teman-temannya sudah kembali ke kamar karena saat itu sudah senja. Ia ingin melihat pekerjaan teman-temannya terlebih dahulu selama ia tidak ada. Betapa terkejutnya ia saat melihat Eri, Anne, Lock dan Pearl masih ada disana. Mereka menunggu kedatangan sahabat yang mereka banggakan itu.
“aku berani bertaruh Pak Sullivan tadi mengulang-ulang kalimatnya,” kata Lock sambil tersenyum meledek. “yah kalian tau sendiri bagaimana sifat guru kalian yang tercinta itu.” Sally duduk di kursi dekat Eri. Eri tersenyum kearahnya, “menurutku lebih baik kau diomeli seperti tadi.. hey jangan melotot dulu! Maksud ku, daripada kau yang terluka, begitu..” Eri menyubit pipinya karena Eri tak suka melihat Sally yang langsung tersinggung. “benar! Rasanya mengerikan sekali melihat kejadian tadi siang. Aku pasti langsung pingsan kalau Sally yang kena!” “dan aku yang ada di samping mu tadi akan menopang tubuhmu, Pearl. Yah sebenarnya tidak apa-apa sih, asal yang jatuh pingsan didekatku bukan Anne. Habis Anne kan berat!” wajah Anne langsung merah padam, entah karena kesal atau malu. “a-aku tidak berat! Enak saja kau Lock!” Anne menendang kaki meja yang diduduki oleh Lock sehingga ia hampir jatuh. Sally langsung tertawa melihat kelakuan Anne dan Lock. Menurutnya mereka berdua sangat cocok, soalnya hampir setiap hari ada saja yang membuat mereka ledek-ledekan seperti itu. Pearl dan Eri juga ikut tertawa, mereka senang sahabatnya sudah tidak murung lagi.
“mm… teman-teman,” kata Sally tiba-tiba. “kurasa kita harus membatalkan rumah hantu ini… aku tau kalian sudah berusaha keras, tapi aku takut kalau apa yang dikatakan Bani itu ada benarnya.” lanjutnya. Semuanya terdiam, tidak ada yang tau mau merespon bagaimana. Pearl sebenarnya ketakutan juga, tapi melihat teman-temannya yang sepertinya tidak suka dengan kalimat Sally itu, dia jadi tidak berani mengangguk. “kami tau kamu kelelahan Sally, tapi percayalah kalau tidak akan ada kecelakaan lagi setelah ini. Ide mu ini sangat bagus dan disambut dengan senang hati sama yang lain, pasti teman-teman kita akan kecewa dan kesal kalau kamu memutuskan untuk membatalkan rumah hantu ini. Lagi pula sayang ‘kan? Kita sudah sampai sejauh ini. Festival juga akan diadakan 4 hari lagi, tidak ada waktu untuk merubahnya.” Eri tersenyum dengan sangat lembut kearah Sally. Anne dan Lock mengetahui kalau sebenarnya Eri sudah lama menyukai Sally, bahkan Pearl yang polos juga menyadarinya. Tapi anehnya Sally sendiri tidak menyadari hal itu.
Sally tertunduk, tidak tau apa yang akan ia perbuat. Akhirnya ia memutuskan untuk menceritakan semua kegelisahannya. “tadi saat Bani bilang kalau disekitarku ada ‘mereka’ aku langsung kehilangan kesadaranku–maksudku tidak begitu juga, tapi aku seperti masuk jauh kedalam pikiranku. Dan tiba-tiba saja aku seperti bisa merasakan ‘mereka’. Merasakan kemarahan ‘mereka’. Lalu tanpa kusadari aku telah bermimpi. Aku tidak yakin seperti apa mimpi itu tapi ada satu hal yang kuingat, kita semua akan menghilang.” Air wajahnya serius, begitu pula dengan keempat sahabatnya. Kalau orang lain yang mengatakan hal seperti itu mereka pasti akan mengira bahwa orang itu sudah gila seperti Bani, tapi kali ini mereka merasa kalau yang dikatakan oleh sahabatnya adalah suatu kebenaran.
Eri yang sudah biasa menjadi seorang pemimpin mulai memutar otaknya. Ia merasa kalau semua ini harus dibebankan juga padanya, ia tidak sanggup melihat keceriaan di wajah Sally semakin pudar karena persiapan festival ini. Lock yang mengerti sifat sahabat sejak kecilnya itu juga ikut mencari jalan keluar.
“begini saja, kita harus beranggapan kalau semua kejadian tak mengenakan selama 2 minggu ini adalah kecelakaan. Ingat, kecelakaan. Karena itu yang bisa kita lakukan sekarang adalah saling menyelamatkan satu sama lain agar tidak ada lagi yang tertimpa celaka. Bagaimana?” “aku setuju dengan Eri, tidak ada lagi yang bisa kita lakukan selain itu.” “kalau begitu aku akan melindungi Sally!” Pearl langsung merangkul sahabatnya itu. Diantara keempatnya, Sally lah yang paling baik dan perhatian kepada Pearl. Pearl yang biasanya tidak inisiatif ternyata bisa percaya diri juga kalau menyangkut sahabatnya. Lock langsung meringis, “masa Pearl yang melindungi orang lain? Malah kebalik hahaha…” Lock memang senang sekali meledek teman-temannya. Pearl yang tak suka, langsung mengembungkan pipinya dan menendang kaki meja seperti yang dilakukan Anne. Dan kali ini Lock benar-benar terjatuh! Semuanya langsung tertawa sedangkan Lock merintih kesakitan, “sepertinya barusan aku mendengar kalau kalian setuju untuk menyelamatkan satu sama lain, bukannya malah mencelakakan…” Lock sedikit merajuk. Tapi mereka tau kalau itu semua hanyalah gurauan dan mereka kembali menertawakan Lock. Saat itu mereka merasa kalau bersama-sama pasti akan mampu melewati masalah ini.
Tapi apa benar begitu?
***
Pagi ini suasana kelas kembali ceria. Pekerjaan Bani sudah diambil alih oleh Ginta, ternyata Ginta juga pintar teknologi. Tak hanya itu, pekerjaan yang lain juga banyak yang sudah hampir selesai. Tapi bukannya beban mereka berkurang, malah menjadi seolah-olah bertambah karena waktu mereka tinggal sebentar lagi. Hari itu, tidak akan ada yang mengira kalau kecelakaan akan terjadi lagi.
“Sally persediaan cat merah dan biru sudah habis!” “lagi?” Sally mengerutkan keningnya. Ternyata kalau sudah di akhir semuanya jadi diluar perkiraan. Pearl yang mendengarnya langsung memberikan usul, “bagaimana kalau kita pinjam dari sekolah? Nanti diganti. Aku tau dimana sekolah biasa menyimpan banyak cat-cat sisa.” “bagus kalau begitu. Ayo antar aku kesana Pearl.”
Lalu mereka berdua bergegas pergi ke kelas yang tak terpakai. Kelas ini adalah kelas tambahan kalau ada suatu acara dan kekurangan ruang kelas, namun kenyataannya sampai saat ini kelas itu digunakan sebagai tempat untuk menyimpan barang-barang bekas klub seni. Hampir mirip gudang tapi tidak terlalu kotor dan berdebu. Masih terawat.
Mereka mulai mencari sisa-sisa cat yang dimaksud oleh Pearl. Ternyata di kelas itu tidak hanya barang-barang sisa dari klub seni, ada juga bahan-bahan kimia yang tertata rapi dan perlengkapannya. Seperti tabung labu, gelas ukur, pipet dan semacamnya. Melihat barang-barang tersebut Pearl terkekeh, “kalau kotor sedikit saja, pasti dikira gudang.” Sally mengangguk. Memang benar, pikirnya.
Selagi mereka mencari tiba-tiba saja tanah yang mereka pijak terasa bergetar. Pearl dan Sally saling tatap, mereka saling bertanya-tanya dalam hati. Getaran itu hilang tepat saat mereka bertatapan. “kupikir gempa bumi,” kata Pearl. “mungkin getaran karena mesin mobil…” tiba-tiba bergetar lagi, dan kali ini semakin kencang. Getaran itu membuat lemari besar berisi zat-zat kimia dan peralatannya disamping Sally roboh. Ia baru saja ingin menghindar, lalu ia merasa ada sesuatu yang mendorongnya hingga ia terpental ke belakang. Dan BRUG. Lemari itu roboh beserta isinya. Sally sangat terkejut dan hampir tak bisa bernapas, saat ia melihat temannya tertimpa lemari besar itu.
“PEARL!!!!”
Ia berusaha mengangkat lemari itu, namun apalah dayanya. Air mata Sally tak terbendung lagi. Dari samping ia hanya bisa melihat tangan Pearl yang gemetar hebat karena shock, serta darah dan sedikit asap yang mengepul akibat reaksi zat-zat kimia. Tanpa putus asa Sally mencoba menelepon Eri untuk membantunya. “Eri! Cepat ke kelas tak terpakai! Pearl kecelakaan!!” ia pun langsung menutup dan kembali berusaha mengangkat lemari besar itu.
Tak lama Eri dan Lock datang dengan keringat bercucuran di mana-mana. Tanpa bertanya pada Sally mereka langsung membantunya mengangkat lemari yang menimpa sahabatnya itu. Mereka mengerahkan seluruh tenaga mereka, sampai akhirnya lemari itu bisa berdiri lagi.
Saat itu mereka melihat, Pearl yang selalu tampil cantik dan lembut kini sudah tidak seperti itu lagi. Wajahnya rusak akibat reaksi zat kimia dan kaca-kaca yang menancap di kulitnya, begitu pula di sekujur tubuhnya. Pemandangan tersebut sangat mengerikan sampai mereka nyaris tak bergerak selama beberapa detik. Lock yang pertama kali tersadar kalau mereka seharusnya membawa Pearl ke rumah sakit. Setelah itu Eri dan Lock langsung membawa Pearl ke ruang kesehatan, sedangkan Sally pergi ke ruang guru.
***
Eri dan Lock berniat untuk tidak memberitahukan masalah itu ke teman-teman sekelasnya. Mereka tidak ingin beban Sally jadi bertambah banyak. Bahkan Anne juga belum diberi tau. Setelah Pearl dibawa ke rumah sakit Sally langsung menghadap ke ruang guru, dia yang harus bertanggung jawab atas semua itu. Sedangkan Eri dan Lock kembali ke kelas sambil membawa cat-cat yang diperlukan.
Jam makan siang sudah tiba namun Anne sama sekali tidak melihat Sally dan Pearl sejak tadi, yang ada saat itu hanyalah Lock. Ia pun menghampiri Lock, “hey Lock, kau tau dimana Sally dan Pearl? Aku tidak melihat mereka dari tadi pagi. Padahal tadi aku yakin mereka ada di kelas.” Lock hanya menggeleng, dia memang tidak tau dimana Sally saat ini. “Anne… ayo makan bareng,” katanya sambil tersenyum lemah. Sebenarnya Lock sangat terpukul saat itu, namun ia mencoba untuk menutupinya dari Anne. Ia tidak mau salah satu sahabatnya itu tertekan.
Kalau ditanya siapa yang paling terpukul jawabannya sudah jelas Sally. Saat ini ia sedang menangis tak ada henti-hentinya di pelukan Eri. Eri tau bagaimana cara untuk membuat orang yang disukainya bisa melepaskan segala kegelisahannya, kesedihannya, keterkejutannya dan ketakutannya, yaitu dengan cara memberikan sandaran kepadanya saat air mata jatuh dari tempatnya. Sally berkali-kali menyalahkan dirinya dan Eri pun berkali-kali mengeratkan pelukannya. Disaat ini lah Eri berjanji pada dirinya sendiri untuk membantu Sally apapun yang terjadi.
***
Anne merasakan sesuatu yang aneh dari Sally. Menurutnya Sally semakin lama semakin terlihat muram dan sering melakukan kecerobohan, seperti bukan Sally yang ia kenal. Anne mencoba mendekatinya dan ia pun merangkulnya, “Sally! Beli jus yuk! Aku haus nih…” “ah tapi kata juru masak hari ini blendernya lagi rusak…” “eeeh?” Anne kecewa, padahal ia berniat untuk melepaskan sedikit beban yang ada di pundak Sally. Sally suka jus apel. Tiba-tiba saja Lock datang sambil membawa kunci sepeda. “sepertinya tadi ada yang mau beli jus,” katanya degan alis terangkat. Anne tersenyum, kadang Lock bisa mengerti maksudnya. “nih belikan jus apel 2 ya!” “oke.” balas Lock dengan ceria. Ia pun berangkat ke mini market.
“tumben Anne mau beli jus apel. Biasanya beli jus rasa mix fruit, biar bisa ngerasain semuanya tanpa beli satu-satu!” kata Sally sambil meniru gaya Anne mengatakannya. Anne terkekeh, “anggap saja hari ini hari apel,” “mana ada hari apel.” Sally menyenggol Anne. Ia sadar kalau Anne sedang mengkhawatirkannya dan ia tidak mau Anne mengkhawatirkannya.
***
Di lingkungan SMA Umum Purin tidak ada mini market khusus yang dikelola oleh pihak sekolah. (kalau di Indonesia bisa dibilang koperasi sekolah) Untuk mencapainya dari sekolah dan asrama cukup jauh, maka dari itu Lock menggunakan sepeda. Ia juga harus mendapatkan izin dari guru. Selain membeli jus, ia juga berniat membeli beberapa minuman untuk teman-temannya yang lain. Sebenarnya itu ide Eri namun saat ini Eri sedang sibuk.
Untuk mencapainya Lock harus bersepeda di jalanan yang lumayan ramai dengan kendaraan roda empat. Tapi tak begitu jauh kalau sudah keluar dari pintu gerbang. Saat ada pertigaan pertama, langsung belok ke kiri dan akan terlihat mini marketnya.
Setelah membeli banyak minuman untuk teman-temannya ia pun kembali ke sekolah. Ia juga membeli coklat untuk Anne dan Sally, mereka suka coklat apa lagi Anne. “akan kubuat dia semakin gendut supaya aku bisa meledeknya,” Lock terkekeh.
Sally, Anne, Eri, Lock dan Pearl sudah berteman sejak sekolah menengah pertama. Mereka berteman sangat baik karena satu hal, mereka sama-sama suka bercanda. Setiap harinya mereka selalu tertawa. Pertengkaran selalu ada tetapi juga selalu diakhiri dengan senyuman. Pearl yang terlihat sopan, anggun dan lembut, kalau sudah berkumpul besama sahabatnya itu semuanya akan pudar karena cara tertawanya. Benar-benar tidak anggun. Bahkan tak jarang dia tertawa sampai menangis, dan hal itu lah yang disukai oleh keempat sahabatnya. Di depan mereka Pearl akan menjadi dirinya sendiri. Tidak hanya Pearl, yang lain juga begitu.
Sally yang selalu memberikan petualangan gila dalam kehidupan mereka dengan ide-ide inspiratifnya, Anne dan Lock musuh yang sangat klop dan sangat menghibur, Eri yang dapat bersikap sebagai kakak, dan Pearl yang cara tertawanya sangat lucu. Mereka satu sama lain saling melengkapi dan berbagi. Tidak ada yang peduli dengan kekurangan atau kelebihan, yang penting adalah kebersamaan. Karena ikatan yang telah mereka bentuk itu lah, sampai sekarang mereka dapat mengerti satu sama lain. Sayang sekali kalau harus dipisahkan. Kalian sependapat? Atau tidak?
Di tengah jalan tiba-tiba ponselnya berdering. Ia pun mengangkatnya sambil bersepeda. “halo? Oh kakak, ada apa kak? Ah? Apa? Maaf aku sedang bersepeda… hah?!” mulutnya ternganga, keseimbangannya mulai goyah. Ia tidak konsentrasi. Lalu ia menutup teleponnya dan langsung bergegas kembali. Ia mengayuh sepedanya sekuat tenaga. Saat itu hanya ada satu hal di pikirannya. Kembali dengan cepat.
Air mata mengalir di pipinya. Mana mungkin ia sanggup menahan rasa sedih apabila mendengar ibu tercintanya, orang tua satu-satunya, terbaring lemah di rumah sakit akibat penyakit jantung yang dideritanya. Ia ingin segera melihat ibunya dan memeluknya. Berada di sisinya disaat beliau membutuhkannya. Rasa sayang Lock kepada ibunya lebih besar dari apapun, karena dari kecil ibunya telah merawatnya dengan penuh kasih sayang. Ayah Lock sudah pergi meninggalkan keluarganya sejak Lock berada dalam kandungan. “ibu!!” teriak Lock dalam hati.
***
Ricuh. Itu lah suasan di kelas 2-D saat ini. 2 hari berturut-turut teman sekelas mereka tertimpa kecelakaan. Anne saat ini sedang duduk ditempat sebelumnya ia berdiri. Ia terkejut setelah mendengar berita bahwa Lock tertabrak truk saat di jalan kembali ke sekolah dan juga merasa kesal bercampur sedih karena tidak diberitau kalau ternyata Pearl juga tertimpa kecelakaan kemarin.
Kecelakaan yang menimpa Lock terjadi begitu cepat. Saat itu ia sedang dalam kecepatan yang melanggar aturan lalu lintas untuk sepeda di jalan raya. Caranya menaiki sepeda juga berantakan. Tentu saja begitu, karena baru saja ia mendapat kabar bahwa ibunya masuk rumah sakit karena penyakit jantungnya kambuh. Yang ada dipikiran Lock saat itu adalah kembali ke asrama, meminta izin pada guru lalu pergi menemui ibunya. Sampai-sampai ia tidak sadar kalau ada truk lewat dengan cepat di depannya. Pengemudi truk tersebut sudah menginjak rem, namun waktunya tak tepat. Lock sudah terpental ke jalanan. Kepalanya terbentur aspal dan tubuhnya tertimpa sepedanya. Langsung pengemudi truk tersebut keluar dan menemuinya. Lock dengan segera dibawa ke rumah sakit. Itu lah yang terjadi.
Anne menangis sejadi-jadinya, ia putus asa. Namun saat itu Eri dan Sally berada disampingnya. “mereka akan selamat Anne…” kata Eri mencoba menyemangatinya. Anne menatap mereka berdua bergantian dan Sally menatapnya dalam-dalam, “kita juga akan selamat, percayalah.” Kata-kata yang keluar dari mulut sahabatnya saat itu tidak bisa menghibur dirinya sedikit pun. “selamat kata mu? Tidak akan ada yang selamat setelah ini semua terjadi! Tidak akan ada selama kita masih berada disini!” teriaknya dalam keputus-asaan. Suaranya bergetar, Anne mengatakannya dalam ketakutan yang mendalam.
“maaf Sally… kali ini aku setuju dengan Bani,” katanya seraya pergi meninggalkan kedua sahabatnya. Sally mencoba untuk mengejarnya tapi Eri mencegahnya. “saat ini Anne butuh waktu untuk sendiri. Kita biarkan dia sebentar sampai dia tenang kembali, aku yakin tak akan memakan waktu yang lama untuk Anne kembali tenang. Kau mengenalnya dengan baik ‘kan, Sally?” Sally mengangguk. Eri adalah satu-satunya teman yang dapat membantunya saat ini, Sally sangat mempercayainya. “aku harap Eri selalu ada di sampingku… tapi memang sebaiknya kalau Eri tidak bersamaku…” gumam Sally. Suaranya sangat pelan sehingga Eri tak mendengarnya.
Eri… aku bisa merasakannya.
Bersambung.
0 comments:
Posting Komentar