Hitam.
Semuanya hitam. Tak adakah secercah cahaya putih yang bersinar? Kalaupun ada,
Keisya tak bisa merasakannya semenjak kecelakaan itu... kecelakaan yang hampir
merenggut nyawanya. Kalian tahu gelap? Ya, gelap. Itulah yang Keisya rasakan
beberapa tahun belakangan ini. Keisya tidak bisa merasakan indahnya dunia.
Keisya tidak bisa merasakan akan adanya
cahaya yang datang. Keisya tidak bisa merasakan apa yang kalian semua
rasakan. Kalian tahu kenapa? Keisya tidak bisa melihat. Lebih tepatnya, buta.
———
Keisya
memiliki seorang kekasih yang sangat tulus mencintainya. Namanya Steven. Steven
tidak pernah malu meskipun ia mempunyai seorang kekasih yang buta. Steven malah
bangga pada Keisya, karena Keisya selalu semangat meskipun banyak orang yang
mengolok-oloknya. Keisya pun begitu. Ia sangat bangga memiliki kekasih seperti
Steven. Hanya Steven yang bisa menerima Keisya dengan tulus. Banyak teman-teman
mereka mengatakan bahwa mereka adalah pasangan yang cocok. Karena, Steven
sendiri ternyata mengidap penyakit jantung. Steven mengidap penyakit jantung
sejak ia berumur 12 tahun. Dokter Steven sendiri mendiagnosa bahwa kemungkinan
Steven sembuh hanya 15%. Keisya pun tahu hal itu. Mereka hanya menjadikan apa
yang telah ditakdirkan kepada mereka sebagai motivasi hidup. Mereka sama-sama
berjuang. Mereka sama-sama saling memberikan semangat.
Pagi ini,
mereka pergi untuk mengunjungi taman bunga yang letaknya tak jauh dari rumah
Keisya. Steven masih setia menuntun Keisya untuk menyusuri setapak jalan yang
tidak mulus itu. Setiap kali Steven melihat Keisya, ia selalu tersenyum. Steven
merasa sangat bahagia memiliki kekasih secantik Keisya. “Sya, kita sudah
sampai.” Keisya pun tersenyum.
“Mau apa kita
di sini, Stev?” tanya Keisya. “Hmm, rahasia. Nanti kau juga akan mengetahuinya.
Aku mempunyai kejutan untukmu.” Jawab Steven masih dengan tersenyum sembari
menatap Keisya.
“Kau ini,
selaluuu saja membuatku penasaran. Ayolah, Stev, beritahu aku!”
“Sabar ya
Keisya, sayang. Kau tunggu sebentar di sini. Aku akan mengambil kejutannya.”
Keisya pun
mengangguk sambil tersenyum manis. “Jangan lama-lama, Stev.” Teriak Keisya saat
menyadari suara langkah kaki Steven yang mulai menjauh.
Tak lama
kemudian, Steven kembali. Tetapi Steven hanya diam sambil menatap Keisya.
“Stev?” Keisya pun memulai pembicaraan. Ia bingung mengapa Steven hanya diam. “
Hmm?”
“Stev?
“Hmm...”
“Kau
menyebalkan sekali.” Keisya merajuk sekaligus tertawa kecil. “Kenapa kau hanya
diam? Mana kejutan untukku?” Keisya bertanya masih dengan tawanya.
“Kalau aku
lupa, bagaimana?” Jawab Steven.
Senyum di
bibir Keisya pun lenyap. Ia merasa sangat kecewa dengan ucapan Steven.
Menyadari perubahan raut wajah Keisya, Steven pun memulai kembali pembicaraan
mereka.
“Hei, jangan
seperti itu. Maksudku, aku sampai lupa memberikan kejutan ini untukmu karena
tadi, saat aku kembali lagi ke sini, aku terlalu terpesona dengan wajah
cantikmu itu. Ini hadiah untukmu.” Mendengar perkataan Steven, Keisya mulai
tersenyum lagi. Dan kini, Keisya bahkan tertawa. “Sungguh, ini tidak lucu.
Kenapa kau membuatku cemas, Stev?” Steven hanya ikut tertawa. Lalu Keisya pun
menerima hadiah dari Steven. Keisya meraba-raba hadiah dari Steven. Kasar. Dan
ia merasakan bentuk hadiah itu. Persegi. Keisya pun mengerutkan dahinya, dan
mulai bertanya pada Steven. “Stev, ini apa?” tanya Keisya dengan raut wajah
yang penasaran.
“Itu sebuah
puzzle. Kemarin, aku membelinya di sebuah toko. Maaf, memang tidak bagus sama
sekali. Tetapi, kurasa tak ada salahnya jika aku memberikanmu sebuah puzzle.”
Jawab Steven dengan serius.
Keisya tersenyum.
Sangat manis. Ia bisa merasakan ketulusan yang diberikan Steven. Keisya
meraba-raba kembali puzzle tersebut. Dan ia kembali mengerutkan dahi saat
merasakan ada sesuatu yang bolong di antara puzzle itu. Steven menyadarinya.
Lalu Steven kembali menjelaskan. “ Sya, di dalam puzzle itu ada nama kita
berdua. Keisya dan Steven. Namun, ada 2 huruf di dalam namaku yang belum
lengkap. Aku sengaja meletakkannya di suatu tempat. Semangat untuk sembuh ya.” Steven kembali tersenyum. Namun kali ini
matanya berkaca-kaca.
“Terima kasih,
Stev. Terima kasih banyak. Aku janji, aku akan sembuh. Agar aku bisa melihat
keindahan dunia ini lagi, agar aku bisa melihat orang-orang yang menyayangiku
lagi, agar aku bisa melihat orang-orang yang kusayangi lagi. Dan terutama, agar
aku dapat melihatmu lagi.” Keisya menjawab sambil memegang tangan Steven dengan
lembut. Saat itu, Steven tersenyum. Dan Steven menangis dalam diamnya. Lalu
Steven menghapus air matanya dengan telapak tangannya dan mencium tangan
Keisya. “Semoga ya, Sya. Kau harus bisa melihat lagi. Demi puzzle itu, dan
demi kita.”
Tak lama
kemudian, handphone Keisya berbunyi. Dan Keisya mengangkatnya. Setelah
berbincang singkat, Keisya menutup teleponnya. “Stev...” tiba-tiba Keisya menangis
sambil tertawa kecil. Steven sangat bingung. “Hei, kau kenapa, Sya? Apa ada
yang menyakitimu?” Steven sangat panik. “Tidak, Stev. Barusan ibuku bilang
dokter sudah menemukan orang yang akan mendonorkan matanya untukku, Stev.
Aku—aku benar-benar bahagia, Stev. Ya Tuhan...” Steven langsung memeluk Keisya.
Mereka berdua menangis bahagia. “Selamat, Sya. Aku ikut bahagia...”
———
Sudah seminggu
lamanya Keisya dan Steven tidak bertemu. Keisya sangat merindukan sosok Steven.
Keisya tahu, Steven tidak mengunjunginya karena dia sibuk bekerja. Mengingat
Steven, Keisya tersenyum bahagia. Kemarin, Keisya mendapat kabar bahwa ia akan
dioperasi 3 hari lagi. Itu artinya Keisya akan bisa meliat dunia, melihat
Steven. Orang yang selama ini menjadi pendamping hidupnya. Saat sedang melamun,
tiba-tiba pintu kamar Keisya terbuka. “Sya, ada Steven di bawah.” Keisya
langsung berbinar-binar. Lalu ia turun ke bawah dibantu oleh ibunya.
Saat ini
seperti biasa, Keisya dan Steven sedang berada di taman bunga yang terletak di
dekat rumah Keisya. Steven sangat merindukan Keisya. Terlihat dari tatapan
Steven. “Sya, aku sangat merindukanmu.” Keisya tersenyum bahagia. Muncul
semburat merah di kedua pipi Keisya. “Aku juga, Stev. Oh iya, kau tahu? Aku
akan di operasi 3 hari lagi, Stev. Aku sangat senang, tapi aku juga takut.
Doakan aku ya, Stev.” Jawab Keisya dengan senang. Tetapi di saat yang sama,
entah mengapa, Keisya juga sangat takut. Sangat ragu dengan operasi yang akan
dijalaninya.
“Jangan takut,
Sya. Doaku selalu menyertaimu. Aku juga punya kabar yang bagus! Aku juga akan
operasi, Sya. Doakan aku ya, Sya. Tapi, hari dimana aku operasi itu juga 3 hari
lagi. Jadi maaf, aku tidak bisa menemanimu...”
Keisya
tersenyum bahagia. “Tidak apa-apa, Stev. Itu berarti, aku akan sembuh, dan kau
juga akan sembuh. Stev, aku sangat bahagia... terima kasih Ya Tuhan.”
Sepanjang
perjalanan pulang, Keisya menggenggam erat tangan Steven. Keisya sangat bahagia
hari ini. Tidak disangka hari operasi mereka sama. Itu berarti, mereka akan
segera sembuh dari penyakit mereka. Keisya membayangkan mereka akan menjadi
pasangan yang bahagia, kelak...
———
Hari ini, hari
dimana Keisya akan membuka perban di matanya. Ia sangat bahagia. Operasi yang
dijalaninya sangat lancar. Mata yang didonorkan untuknya pun cocok. Tiba-tiba
Keisya teringat Steven. Sudah tidak sabar ingin melihat wajah Steven kembali. Tak
lama, dokter datang. Perlahan, perban di mata Keisya pun dibuka. Setelah dibuka, Keisya mencoba
untuk membuka matanya perlahan-lahan. Buram. Itulah kesan pertama Keisya saat
membuka matanya. Beberapa detik kemudian, semua terlihat jelas di mata Keisya.
Keisya bisa melihat kedua orangtuanya yang tersenyum pada Keisya. Lalu Keisya
melihat dirinya di cermin. ‘Steven! Aku sudah bisa melihaaaatt!’ jerit Keisya
dalam hati.
Sudah 2 minggu
lamanya setelah operasi Keisya tidak melihat Steven. Rasa rindu di dalam
dadanya kini bergejolak. Keisya tidak nafsu melakukan apapun. Semenjak operasi,
Keisya hanya duduk merenung di kamarnya, memandang ke luar jendela dengan
tatapan kosong. Ia hanya ingin melihat Steven. Lalu, Keisya teringat hadiah
yang diberikan Steven di taman bunga sebulan yang lalu. Keisya pun beranjak
dari kasurnya, dan mulai membuka laci meja yang ada di dalam kamarnya. Keisya
mengambil puzzle itu. Saat melihatnya, Keisya sangat takjub. Puzzle itu sangat
indah. Berwarna biru muda dengan tulisan Keisya dan Steven, seperti yang
dikatakan Steven. Namun, ia sekarang mengetahui 2 huruf yang bolong itu. Huruf
“E”. 2 huruf “E” dalam nama Steven tidak ada. Tiba-tiba, ibu Keisya masuk ke
kamar Keisya. “Sya, ada orang yang mencarimu di luar.” Keisya tersenyum.
“Steven, Bu?” tanya Keisya. “Bukan. Ayo temui anak itu.” Jawabnya Ibu Keisya.
Keisya pun tidak tahu siapa yang datang.
Setelah turun
ke bawah, ternyata dia adalah adik dari Steven yang bernama Dimas. Dimas
mengajak Keisya ke suatu tempat. Ternyata itu adalah sebuah rumah pohon. Tadi
Dimas sempat bilang kepada Keisya bahwa 2 huruf “E” dalam puzzle itu ada di
atas rumah pohon. Keisya menaiki rumah pohon tersebut. Sesampainya di atas, ia
menemukan 2 huruf “E” tersebut. Lalu Keisya meletakkan 2 huruf “E” itu pada
puzzle yang diberikan Steven. Keisya masih bingung. Lalu ia bertanya pada
Dimas. “Loh, Stevennya mana?” Dimas hanya diam. Lalu Dimas menyampaikan suatu
surat yang dia bilang itu berasal dari Steven. Setelah menyampaikan surat
tersebut, Dimas langsung pulang. Wajah Dimas sangat jauh dari kata ceria. Dia
terlihat sedang menanggung beban yang berat. Dengan segera, Keisya membuka
surat dari Steven dengan bahagia.
Sya, apakah kau merindukanku? Aku sangat
merindukanmu. Mungkin saat kau membaca surat ini, aku sudah tidak ada lagi di
dekatmu. Hmm, kau ingat saat aku bilang padamu bahwa aku akan operasi? Coba kau
ingat. Saat itu aku tidak bilang padamu bahwa aku akan operasi jantung, kan? Aku
bukan operasi jantung, Sya. Tapi aku operasi mata. Aku mendonorkan mataku
untukmu. Sebenarnya harapan sembuhku untukku itu tidak ada, Sya. Kau tahu?
Setiap aku melihat segala sesuatu dengan mataku, aku merasa tidak adil. Kenapa
aku bisa merasakan semua hal-hal yang tidak bisa kau rasakan? Aku ikhlas
memberikan kedua mataku untukmu. Lagi pula aku sudah tidak tahan dengan
penyakitku ini. Setiap saat aku harus menahannya. Aku harus menahan rasa sakit
saat bertemu denganmu. Saat itu, saat aku hendak mendonorkan mataku untukmu,
aku sangat ragu. Hingga aku merasa bahwa aku sudah tidak bisa menahan rasa
sakit yang ada di jantungku. Aku sudah mengambil keputusan untuk menyerah. Aku
benar-benar tidak kuat lagi. Aku mohon jangan menangis, Sya. Kau masih ingat
dengan puzzle pemberianku? Aku sudah memberitahumu di mana kau harus mencari 2
huruf itu kan? Sekarang aku akan menjelaskan kenapa aku menyembunyikannya di
rumah pohon itu. Sewaktu 3 hari sebelum kau dioperasi, sepulang aku mengantarmu
pulang, aku langsung berinisiatif untuk membuat rumah pohon itu. Itu rumah pohon
kita berdua, Sya. Agar kau selalu mengingatku, hehe. Kau boleh mengunjungi
rumah pohon itu bersama dengan suamimu kelak. Saat kau rindu padaku, kau juga
cukup ke rumah pohon itu saja, Sya. Lagipula aku janji walaupun aku tidak ada,
aku masih tetap menjagamu sampai kapanpun. Dan kali ini, aku akan menjelaskan
kenapa harus huruf “E” yang aku hilangkan dari puzzle itu. “E” itu berarti eye.
2 huruf “E” itu berarti 2 eyes. 2 mata. Sepasang mata. Kau harus tahu, Sya. Semenjak
aku memberikan puzzle itu padamu, aku sudah menganggap bahwa kedua mataku ini
juga punyamu. Hanya kau yang berhak memiliki mata ini. Kau yang pantas hidup
dengan bahagia. Bukan aku. Aku tidak ingin membuat orang-orang di sekitarku
repot hanya karena penyakitku. Mungkin ini memang takdir dari Tuhan. Maka dari
itu, aku menyuruhmu untuk menemukan puzzle itu. Sekarang kau sudah
menemukannya, kan? Selamat, Sya. Jangan menangis. Masih banyak orang yang
menyayangimu. Life goes on! Aku selalu berdoa untuk kebahagiaanmu. Selamanya,
cinta ini hanya untukmu, Keisya.
Kekasihmu
Steven
Keisya
menangis. Kakinya melemas. Tubuhnya bergetar. Ia tidak percaya dengan semua
ini. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja dialaminya. Ia terduduk di
bawah pohon tersebut. Sakit. Hatinya sangat sakit setelah mengetahui itu semua.
Keisya tidak pernah menyangka pengorbanan Steven akan sebesar itu. Terlebih
lagi, saat mengetahui bahwa mata yang sekarang ada di dalam dirinya adalah mata
Steven. Ia menangis meraung-raung di sana. Keisya sangat tidak kuat. Keisya
takut. Takut tidak bisa melepaskan Steven. ‘Steveeeeeeeeen......’ Keisya teriak
sekeras-kerasnya. Sungguh perih. Pilu yang kini Keisya rasakan. Keisya bahkan
sudah tidak tahu lagi bagaimana cara melanjutkan hidupnya tanpa Steven.
———
“Ma,
aku naik ke atas ya.” Seorang anak laki-laki terlihat sedang menaiki sebuah
rumah pohon. “Hati-hati, Nak.” Jawab ibunya sambil tersenyum. Ia terlihat
bahagia dengan kehidupan yang dijalaninya sekarang. Ia tak pernah menyangka
akan mempunyai seorang suami yang sangat menyayanginya. Dan seorang anak
laki-laki yang yang menggemaskan. Anak itu juga pintar. ‘Terima kasih banyak,
Stev. Aku tetap akan selalu mencintaimu...’
0 comments:
Posting Komentar